Senandung RASA Ketika hati dan otak mulai tak mampu lagi menampung rasa dan lisan tertahan untuk menyenandungkannya, maka tulisan mengambil alih untuk menyampaikannya. Menyenandungkan semua tentang Rasa...

Rabu, 18 Januari 2017

KF D-1 KEKASIH IDAMAN

Ehem. Kekasih Idaman ya?

Kekasih Idaman ....
Sama sekali nggak ada bayangan. Tapi kalau boleh pengin dan mimpi dan mengkhayal dan ... dan ... lainnya-wkwkwk-kekasih idaman gue itu, yang seperti ini ....

Hasil gambar untuk g dragon
Sumber Gambar : Mbah Google


Atau .... Yang gini .....
Hasil gambar untuk chanyeol exo
Sumber Gambar : Mbah Google
Alasan ..... Mereka itu .... Luar biasa! *ketawa nista*

Oke, itu kalau bicara tentang ingin, mimpi, dan mengkhayal. Karena nyatanya, mereka nggak bakalan ada di sini.Gue sadar kok .... *nabok meja*. 

Balik ke Kekasih Idaman. *versi dunia nyata*
Nggak ada kriteria khusus atau apalah-apalah itu, tentang kekasih idaman buat gue. Karena, dari sekian banyak punya teman yang memiliki sekian banyak pula list kekasih idaman versi mereka, nggak ada satu pun yang menikah sama laki-laki yang kriterianya udah mereka tulis sebagai kekasih idaman. Gitu emang kalau main target, suka dimurka. Dapatnya malah yang kebalikan. Wkwkwk. 

Tapi sekalipun nggak punya kriteria khusus. Jelas gue punya dua hal dari seorang laki-laki yang bisa membuat jantung ini berdebar keras, dan hati ini leleh sampai ke lantai. Satu, laki-laki itu bisa membuat gue nyaman. Dua, memiliki daddy material di dalam dirinya. Husband material juga boleh. Eh sama aja deng! Wkwkwk. Intinya ya gitu. 
Nyaman kan nomor satu. Dan berhubung gue bukan lagi gadis remaja muda belia--oke gue akuin, gue udah jadi wanita dewasa yang luar biasa. Tsah!--jadi, mencari sosok yang memiliki jiwa kebapakkan dalam dirinya, itu penting. Yang punya jiwa-jiwa kebapakkan + suami siaga tuh biasanya sayang istri, sayang anak, sayang keluarga. Dan kalau udah SAYANG, pasti ngelakuin apa pun yang bikin keluarganya bahagia. 

Daaannn .... Inti dari segala keanehan cuap-cuap gue ini, kekasih idaman itu yang bisa bikin gue bahagia lahir batin dunia akhirat, dengan kasih sayang dan cinta yang melimpah ruah untuk dibagi. Titik! Ngahahaha .....


-Aira2017-

Bernard Meltzer 
Happiness is like a kiss. You must share it to enjoy it. 



Sabtu, 21 Mei 2016

Ocehan Finding You Among The Stars


Finding You Among The Stars
Penulis             : Eka Annisa
Editor              : Tri Saputra Sakti
Disunting        : M. Adityo Haryadi
Desain Sampul: Orkha Creative
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978 602 03 2754 9
Cetakan Pertama: April, 2016
Harga              : Cek sendiri di toko buku. Soalnya gue dikadoin sama penulisnya langsung.
                          Nyahahaha JJJ

Bagi Nadhira, Reo adalah bintang yang selalu menerangi hidupnya. Saat cowok itu meninggal, hidup Nadhira menjadi gelap. Dia menjadi lebih tertutup dan enggan bersosialisasi.
Sampai akhirnya Nadhira bertemu Haykel si mahasiswa menyebalkan di salahs atu perpustakaan Jakarta. Herannya, cowok itu mengingatkan Nadhira pada Reo karena sama-sama menyukai alam semesta. Kemiripan itulah yang membuat hati Nadhira pelan-pelan terbuka.
Kedekatan Nadhira dan Haykel membuat Edgar—sahabat Reo—kesal. Bagaimanapun, Edgar lebih menyukai Nadhira. Bahkan cowok itu rela melakukan apa pun demi Nadhira. Kegigihan Edgar pun membuat perasaan Nadhira goyah.
Selain itu, Nadhira juga dihadapkan pada kenyataan menyakitkan tentang asal-usul Haykel, kehidupan Edgar, bahkan misteri kematian Reo.

Nah, itu sekilas blurb yang ada di buku.
Di sini, gue bukan mau ngreview macam pakar-pakar review buku lainnya. Gue nggak ahli yang begituan soalnya. Tapi gue mau nyampein kekesalan gue sama ni buku.
Awal buku ini mau terbit, asli gue excited banget. Gimana nggak, Finding You Among The Stars ini udah digarap sama Kak Eka dari zaman Barbie masih cinta sama Ken. Euh, alay. Pokoknya udah dari lama, dan gue ikuts erta dalam penggarapannya. Bukan sebagai penyumbang ide sih, tapi sebagai pembaca—bahasa kerennya proofreader—yang doyan komen sana-sini sok tahu.
Jujur, gue lebih suka naskah asli FYATS. Yang filenya masih ada di gue. Awal baca buku yang udah terbit ini, gue kecewa. Maksain banget buat ngelewatin bab-bab awal yang asli boring setengah mampus, sambil dalam hati bilang, “Ya Allah, kuatkan hati Dedek. Ini bukunya Kak Eka, gue udah janji review.”, gitu. Hampir satu bulan gue nyelesein ni buku. Biasanya gue baca buku Dan Brown setebal bantal aja cuma sehari. Ya karena itu tadi, openingnya udah bosenin.
Gue nggak tahu ini salah siapa, tapi gue kecewa sama buku ini. Padahal harapan gue buat buku ini luar biasa gede, mengingat gimana pontang-pantingnya Kak Eka waktu ngegarap ni buku.
Di naskah aslinya, gue suka sama sosok Edgar. Edgar yang dancer, yang perhatian, yang kadang-kadang bisa romantis. Walaupun di buku ini karakter Edgar nggak banyak berubah, tapi entah kenapa feelnya Edgar berkurang. Gue malah jadi seneng sama Haykel. Si mantan penjahat yang sekarang udah tobat.
Haykel di sini digambarin dengan sangat manis. Oke, gue harus akui ini. Haykel yang di buku ini lebih auwo daripada Haykel yang pertama gue baca. Misterius gimana gitu. Gue bahkan jatuh cinta sama dia. Beruntunglah Kak Eka, bukumu tetap memiliki sosok yang bisa membuat Adek jatuh cinta akakakak….
Oiya, Haykel juga pintar ngomong. Ck! Ada satu omongan dia yang gue suka.

“Nad, Mitch Albom bilang, ‘when someone is in your heart, they’re never truly gone.’”

Gue nggak tahu siapa itu Mitch Albom, tapi gue suka kata-katanya. Tengkyu karena Haykel udah ngomong ini. J

Well, di luar segala kekecewaan gue sama buku ini, buku ini tetap berbekas kok buat gue. Emang lima lembar awal ngeselin, tapi masuk ke bab-bab pertengahan, ceritanya mulai asyik. Tentang Haykel yang mati-matian bertarung sama masa lalu, dan Nad yang berusaha ngelupain masa lalu. Tentang Edgar yang mati-matian berusaha ngelupain perasaannya untuk seseorang karena harus menjaga perasaan seseorang yang lain—sayangnya nggak sukses. Dan juga tentang persahabatan. Gimana sahabat-sahabat itu tetap ada di saat tersulitnya Nad, Haykel, pun Edgar.

Buku ini tuh bikin baper lalu bikin kesel. Bikin gregetan di pertengahan. Lalu bikin pengen nabok tokoh-tokohnya. Di pertengahan hingga menjelang akhir, bakal kerasa banget galaunya Nadhira, juga Edgar. Bakal makin kelihatan perubahannya Haykel. Bakal makin banyak sakit hati--yeah, ada yang cintanya bertepuk sebelah kaki, btw. Dan begitu ending, kalian bakal disuguhin yang pahit manis kecut-kecut asam gimana gitu, dari Nad dan Haykel. 

"Reo regulus, bintang paling bersinar di rasi bintang Leo. Magnitudonya satu, dan terang benderang. Ada satu lagi bintang yang sama terangnya. Namanya Aldebaran, bintang paling gemerlap di rasi Taurus. Magnitudonya juga satu, sinarnya cemerlang. Nah, Aldebaran itu kamu, Kel." -Nadhira

Nah. Buat kalian yang mau belajar ngegombal tapi versi kece kelas Dewi, mending belajar sama Nad. Kalau gue jadi Haykel, pasti klepek-klepek ada cewek ngomong gitu ke gue. _Alay, Ca!- hahaha.

Well, buku ini sesungguhnya menyuguhkan kisah yang bagus. Dengan banyak pelajaran. Dari mulai sosio dampai perbintangan. Walaupun menurut gue masih lebih kenceng ilmu-ilmu yang Kak Eka selipin di naskah aslinya. Tapi nggak pa-pa. Toh ini bukan buku pelajaran—huehehehe.

Oke. Rasanya segitu dulu aja review—atau omelan gue—tentang FYATS. Maaf buat kata-kata yang nggak ngenakin. Semangat Kak Eka. Semoga karyamu yang terbaru lekas terbit dan nggak mengecewakan lagi. Semoga ketemu editor yang makin kece. Dan semoga bukunya best seller. Hihi.


-Finding You Among The Stars-

Kamis, 17 Maret 2016

Sakit mana? Nahan Rindu atau Siku Kepentok Ujung Meja?


Judulnya ngaco ya? Nggak loh. Gue serius. Tapi bukan gue yang lagi rindu. Kalau kepentok ujung meja sih sering. Hoho.

Jadi, long long time ago—halah, Ca!—gue dapet pesan Wasap dari seorang teman yang udah lumayan lama nggak ngechat. Dia bilang gini, “Ca, gue galau. Barusan siku gue kepentok ujung meja. Terus gue udah nggak dapet kabar dari Cewek gue yang lagi KKN, tiga hari. Menurut lo, sakit mana? Nahan kangen apa siku kepentok ujung meja?”.
Asli, gue mikir sampai keesokan harinya, buat jawab. Bahkan pertanyaan ini gue lempar ke anak Rumpi, temen di dekat gue, temen wasap yang lain, adik, sampai ke temen BBM nun jauh di ujung kulon sana. Dan jawaban mereka beragam.

·         Rumpi
Semua jawab, “Sakitan siku kepentok ujung meja, Kak. Lebih sakit lagi kalau jari kelingking kaki kepentok tembok.”. Dua orang nggak jawab. Mungkin mereka abstain karena nggak tahu. Sama kayak gue. Dan dua yang jawab ini, karena mereka jomblo mungkin. Jadi nggak ngerti betapa menyiksanya LDR! Nyahahaha.
·         Temen di deket gue
Tiga jawab sakitan siku kepentok ujung meja (Soalnya mereka nggak LDR).
Dua jawab, sakitan nahan rindu. Nyesek sampai ulu hati. Susah makan, susah bobok, susah boker, susah mandi, susah jajan. Halah!
Satu nih yang jawabnya serius. Dia cowok. Lagi LDR sama pacarnya. Dengan tampang sedih yang mendalami banget, dia bilang gini ke gue, “Sakitan nahan rindu, Ca. Sakit banget. Puas?!” . Ujung-ujung malah ngamuk dia ke gue, gara-gara gue gangguin. Ck!
·         Teman Wasap yang lain
Semua rata-rata jawab sakitan nahan rindu. Temen wasap gue rata-rata melankolis sih. Langsung deh tuh chat sama mereka dipenuhi puisi-puisi cinta ala anak alay baru ditinggal merit! #Loh?!
·         Adik
Nggak bisa diharepin dari jawaban adik gue nih. Dia cuma bilang gini, “Emang Inga peduli?”. Sial!
·         Temen BBM yang lain
Ini sama aja kayak temen wasap. Jawabannya ngaco. Tapi semua jawab kalau lebih sakit nahan rindu. Udah. Gitu aja. Tanpa penjelasan. *LemparinBakiak!*

Sekarang menurut gue sendiri ya. Hmm…. Hmm…. Apa ya….??
Kalau gue sendiri, lebih milih sakitan siku kepentok ujung meja. Kenapa? Bukan karena gue nggak pernah LDR. Pernah. Lama pula. Huahahaha. Tapi ini kan nanyanya tentang sakit kan ya? Ya jelas sakitan siku kepentok ujung meja. Coba deh, nggak bisa gerak tu tangan agak lima belas menit saking nyerinya.
Sementara rindu? Memang bikin sesak sih. Kadang sampai mewek sendiri. Tapi udah, segitu aja. Lebih parrah kalau ngelamun malah. Dan pula, rindu itu bikin kita jadi kreatif. Tuh contohnya temen-temen wasap gue. Mendadak jadi puitis abis. Tulisan-tulisannya jadi romantis luar biasa. Sesuatu kan?

Jadi Bro, pertanyaan lo akhirnya gue jawab. Sakitan kepentok ujung meja. 
Kalau menurut kalian, sakitan mana? 

Kamis, 31 Desember 2015

Kepada API yang Menyala di Penghujung Tahun....




Kepada api yang menyala di penghujung tahun....
Entah kenapa malam ini aku begitu merindukannya.
Sesosok api yang dulu pernah menjadi air. Sesosok api yang dulu pernah menghilangkan panasnya, berubah menjadi hangat.

Rasanya tidak pernah ada ingatan yang indah tentang sosok api itu di penghujung tahun.
Tapi malam ini, entah kenapa aku begitu merindukannya.

Mungkin karena api yang sedang menyala di depan mataku. Tapi tidak. Bahkan rindu ini ada jauh sebelum api yang di depanku ini, aku nyalakan.
Sedang apa dia sekarang? Tahu tapi tidak terlalu tahu, itu bukan hal yang menyenangkan.
Melihat tapi tidak terlalu melihat, itu bukan hal yang menggembirakan.

Apa kau bahagia?

Kepada api yang menyala di penghujung tahun....
Bisa tidak sampaikan salamku untuknya?
Kepada api yang menyala di penghujung tahun....
Bisa tidak sampaikan maafku untuknya?
Kepada api yang menyala di penghujung tahun....
Bisa tidak sampaikan padanya,,,
Aku merindukannya.


Minggu, 22 November 2015

Amore Mio - Sedikit Omelan Gue Tentang Amore~~


sumber gambar: dari koleksi pribadi

Amore Mio
Penulis: Rofie Khaliffa
Editor: Ambra
Tata Isi: Violet V
Tata Sampul: Wulan Nugra
Penerbit: de TEENS
ISBN: 978 602 255 966 5
Cetakan Pertama: September, 2015
Harga: Cek sendiri di toko buku. Soalnya gue dapat dari hasil malak 😁


Amora, seorang gadis yang merindukan sosok ayah. Dia berkerja di Galateria Paolin sebagai pelayan. Suatu sore, datang pemuda murung yang kemudian selalu hadir di setiap senja berikutnya. Pemuda yang dengan dinginnya selalu mencela gelato buatan Amora dan membuat kacau hari-harinya.

Tom, pemuda murung yang selalu duduk di meja nomor 13 dan memesan dua mangkuk gelato stroberi. Lalu sambil memandan senja, ia bercakap-cakap sendiri. Menyebut nama seorang gadis. Isabella.

Diego, generasi penerus usaha galateria dan meski telah bertahun-tahun menjejakkan kaki di tanah lahirna, Itali, Diego tidak pernah membuang impian masa lalunya. Kenangan yang tersimpan dalam sebuah foto lama dan kapal mainan.

          "Apa kau kenal Isabella?" - Tom

          "Kalau kau tidak keberatan, Signore,
           aku akan membantumu mencari
           Isabella." -Amora

Awal baca buku ini—gue baca yang masih dalam bentuk belom diedit sama sekali—gue ngerasa bete karena narasinya yang panjang dan kelewat lambat. Tapi begitu gue baca file utuh yang udah diedit dan dimanis-manisin, gue jadi suka sama si Amore Mio ini.

Anak kedua dari adik ketemu gede gue ini, asli bikin sebel abis. Bukan karena ceritanya yang bosenin, tapi karena karakter Tom yang bikin sebel.

Tom itu digambarkan sebagai lelaki baperan yang selalu nyari-nyari ceweknya yang bernama Isabella. Cewek yang letak dan keberadaannya nggak tahu di mana. Selalu datang ke Galateria, memesan gelato—yang kebetulan dibuat oleh Amora—dan selalu protes karena potongan stroberi yang ada di gelato itu sama sekali nggak mirip dengan potongan stroberi si Isabella. Selain pemurung dan hobi marah-marah nggak jelas, Tom juga sering nongkrong di boks telepon dan neleponin Isabella. Padahal telepon itu jelas nggak tersambung. Sumpah, ini cowok, cakep tapi baperan tingkat dewa!

Amora sendiri digambarkan sebagai gadis yang lincah, periang, mandiri, dan tabah—kayaknya. Soalnya dia tahan menghadapi Tom yang baperan, bahkan sampai menawarkan diri untuk menemani Tom mencari Isabella. Tapi begitu mereka sudah berkeliling Verona untuk mencari Isabella, beberapa waktu setelahnya Tom malah menghilang. (Dasar cowok baperan doyan kabur!).

        “Hanya orang bodoh yang mengucap
          janji tanpa tahu bisa dia tepati atau
          tidak, dan aku bukan bagian dari
          golongan orang bodoh itu!” -Amora

Di saat Amora galau karena kepergian Tom yang mendadak. Muncul sosok Diego yang—aakh! Sumpah gue demen banget sama nih cowok. Galak-galak manis gitu!—menjadi manajer baru Galateria.

Sosok Diego ini digambarkan dengan sangat ciamik oleh Mpil—panggilan sayang gue buat penulisnya—dan berhasil membuat banyak cewek jatuh cinta. Termasuk gue. Sosok manajer yang angkuh, dingin, seenaknya, tapi juga perhatian. Tapi yang terpenting, Diego ini adalah sahabat lama Amora. Orang yang dulu pernah berjanji pada Amora untuk mencari ayah gadis itu. Begitu mengetahui bahwa Amora itu adalah Momo sahabat kecilnya, Diego langsung teringat akan penemuannya tentang ayah Amora. Lelaki yang sekian lama sangat dirindukan oleh Amora.

Sampai di pertengahan ini, gue nyaris mewek karena tahu ayah Amora udah nggak ada. Apalagi di bagian yang Diego ketemu bapak-bapak tua di pelabuhan, dan si bapak tua bercerita tentang pengembara yang nggak bisa pulang. Serius, coba aja baca sendiri di bukunya, kalau kalian nggak nyaris mewek, berarti kalian nggak punya hati! ^-^

          “Umpamakan saja balon-balon ini
            perasaanku, yang sudah kutiup
            pelan-pelan dan penuh kesabaran.
            Di dalamnya berisi sejuta harapan.
           Tapi, Mo, sejuta harapan ini tidak
           akan pernah menjadi kenyataan dan
           sia-sia jika terus berada di dalam sini.
           Aku butuh penyelamat. Penyelamat
           yang menjadi penyebab harapan
           harapan itu ada. Penyelamat itu...
           kau.” —Diego

Dari keseluruhan cerita ini, gue sangat mengidolakan Diego dan berharap Diego berakhir bahagia bersama Amora. Dan harapan gue dikandaskan oleh sang penulis. Penulisnya sendiri dengaan sombongnya bilang, “Aku berhasil ciptain tokoh second lead cowok yang dicintai dan lead cowok yang dibetein.” Iyap! Dia berhasil banget. Selain berhasil bikin kesal, penulisnya juga sukses bikin baper pembaca sama segala kebaikan hati Diego. Ketulusan cowok itu dalam menyayangi Amora sungguh nggak usah diragukan lagi. Bahkan dia rela melepas Amora demi kebahagian gadis itu.

Hubungan Diego-Amora-Tom dalam cerita ini memang rumit. Yang satu terlalu baik, yang satu egois, sementara perempuannya galauan. Tapi proses dan kejadian pelepasan Amora dari Diego bukanlah hal yang terjadi lurus-lurus aja. Banyak fakta mengejutkan yang terungkap ketika menjelang ending. Fakta yang gue sendiri sampai kaget waktu pertama kali baca cerita ini sambil ngomel dalam hati, “Sialan, Mpil. Tragis amat ni orang!”, gitu.
Tapi yang terpenting dari semuanya, walaupu. Kalian dibuat baper, sebel, bete, atau apa aja, buku ini memang menarik. Settingnya yang di itali, hidup. Bukan cuma sekedar tempelan. Kalian bakal ngerasa kayak lagi jalan-jalan sama Tom-Amora waktu mereka keliling Verona.
Selain itu, buku ini juga mengajarkan kita tentang sebuah ketulusan, keikhlasan, kasih sayang, dan ketetapan sebuah hati.
Kalian tahu? Kalau hati udah milih, nggak akan ada lagi hal lain yang bisa menghalangi. Termasuk orang paling baik sedunia pun.

Oke, gue rasa segitu aja review—atau omelan—gue tentang buku ini. Guys, bukan karena ini buku adik angkat gue, tapi karena memang buku ini bagus. Gue rekomen banget kalian buat baca. Tapi peringatan dari gue, buat yang doyan baper, siap-siap mewek baca bukunya. Buat yang hatinya sedikit lebih kuat, siap-siap bete karena kebaperan ceritanya. Ho ho ho.


                             Amore Mio
   -tidak semua kapal kembali ke pelabuhan-

Rabu, 02 September 2015

Nobash! (Boyband/Girlband yang Sering Kali Kena Tindas!)

Assalammualaikum!
Annyeonghaseyo!
Ohayou gozaimasu!
Hello!
Nihao!

Ah udah, segitu aja gue salam-salam sapanya! Gila, udah lama banget gue ga ngeblog. Dan sekalinya ngeblog, gue cuma pengen ngeluarin uneg-uneg gue!

Liat tu kan gue nyapa dalam lima bahasa (soalnya cuma itu yang gue tahu, haha). Jadi, sebelum pembukaan gue makin panjang dan ga jelas, langsung aja.

Beberapa hari lalu, gue sempet blogwalking dan baca salah satu blog (udah lama sih postingannya. Tapi baca komen dibawahnya yang huru hara ampe ribut gitu dan baca kata-katanya yang ngbash dan nghina banget, gue jadi ga tahan buat ga ngoceh!) yang nulis tentang betapa begoknya orang-orang yang suka sama boyband/girlband. Wasting time! Mereka banci! Modal tampang doang! Oplas pula! Ga bisa nyanyi! Yang cowok jual abs, yang cewe jual paha!

Nah sekarang, gue mau tanya. Lo suka siapa? Avenged sevenfold? Taylor Swift? Ariana Grande? Justin Bieber? Usher? Bruno Mars? Ato siapa?

Apa mereka yang cewek-ceweknya pake baju ketutup? Apa mereka yang cowok-cowoknya waktu manggung ga pamer abs?
Coba lo liat.

Terus buat yang suka ngbash boyband/girlband korea. Mereka ga kaya yang lo bilang kok. Gue bukan Kpopers. Gue suka semua musik yang lagunya enak di kuping gue dan ga terkecuali lagu-lagu Korea, China, Jepang.

Kenapa lo sensi amat ama Boyband/Girlband Korea? Napa? Napa lo suka banget bandingin mereka ama Laruku, One Ok Rock, Dir en Grey, Muse, Green Day, dan entah siapa lagi penyanyi Jepang juga Barat yang oke punya. Kenapa lo bilang mereka modal tampang sama pamer badan doang?

Lo tau Akdong Musicians ga? Mereka tuh jelek, ga punya tampang. Tapi tenar. Sukses kok. Karena apa? Suaranya bagus. Gugling kalo ga percaya.
Lo tau Bigbang? Walaupun mereka cakep-cakep ga ketolong, tapi mereka ga modal tampang. Semua personilnya bisa nyanyi, jago ngrap, produserin lagu-lagu mereka sendiri. Dan leadernya, a.k.a G Dragon, udah terkenal sebagai produser muda yang jenius.
Lo kenal Infinite? Mereka ga pada cakep. Paling L doangan yang cakep. Sisanya ga terlalu. Tapi lo pernah liat mereka nyanyi ga? Live performance? Liat ga mereka ngdance kayak kalajengking gitu dan no lipsync. Lo pikir gampang?
Gitu juga ama SHInee dan EXO. Mereka ngdance ampe jungkir balik muter-muter kaya baling-baling sambil nyanyi, lo kira gampang?
Tau CN Blue sma FT Island? Mereka bukan boyband. Tapi band. Dan lagu-lagunya juga bagus.
SNSD, AOA, Sistar, Wonder Girls, mereka juga bukan sekedar GB yang jualan paha. Tapi lagu-lagu sama suaranya juga pada bagus kan? Kalau ngdance juga oke. Bahkan Wonder girls baru aja comeback pake konsep band. Bukti kalau mereka juga bisa main alat musik macam Avril Lavigne.

Walaupun ada beberpa BB/GB yang ga terlalu oke punya, tapi jangan lo pukul rata. Se7en aja marah kalau disuruh lipsync. G Dragon aja ngambek pas diminta lipsync. Gitu juga Infinite ama SHInee dan beberapa GB/BB lain yang emang nganggap diri mereka penyanyi.

Jangan pernah kalian yang ga suka BB/GB ngatain yang suka BB/GB. Fandom mereka gedenya naudzubilah. Salah ngomong dikit, kalau mereka nemu elo, rengsek badan lo! Dan jangan nganggep idola lo lebih nganu ini itu blablabla daripada idola mereka. Hormati idola orang lain.

Kayak kemarin yang ngatain 1D sampah. Bigbang banci. 2pm ama Suju homo. Mikir! Gapapa kalau pendapat kalian begitu, tapi ga usah ampe update pm bbm, ngtwit, update status fb, path, apalah itu, yang isinya ngata-ngatain idola orang lain.

Emang kenapa kalau banyak yang suka BB/GB? Orang pengamat musik sekelas Bens Leo aja suka ama Bigbang dan ngakuin kalau mereka BB yang luar biasa. Juga banyak artis cowo yang suka ama 1D, suju, SNSD, AOA.

Mereka BB/GB, bukan berarti ga bisa main alat musik. Bisa. Dan penampilan mereka yang make up-an kalau di tv ato panggung, ya tuntutan. Jangan dipikir artis barat sana ga make up-an. Pake kok. Mungkin beda tingkat ketebalan ato apanyalah itu. Dan soal oplas-oplasan. Hak mereka. Yang penting nikmatin karyanya. Udah. Selesai.

Ga ush saling hina gitu. Sejelek-jeleknya mereka yang lo katain, lo belum tentu kan bisa gitu?

(Nb, di postingan ini sengaja ga ngomongin BB/GB dari negara sendiri. No comment soalnya kalau yang itu. Dan sekali lagi, gue suka dengerin semua lagu yang enak di kuping. Mau dari negara mana pun, dan sekalipum gue ga ngerti bahasanya. Punya hp kan? Tinggal gugling terus translate. Gitu aja repot!)

Oke! Salam damai! Dan, no spam di kolom komen gue!

Rabu, 24 Juni 2015

Risa....


.... Biar danau ini jadi saksi cak mano kau tenggelamkan cinto ini dan hidup ini. Di sini aku mati. Di sini jugo kelak kau nyusul aku....
***
Aku tidak pernah suka pulang ke rumah onun[1]! Tapi kali ini, aku tidak bisa menolak ketika ibu memaksaku untuk pulang ke Bengkulu dan menginap di rumah onun. Onun sedang sakit. Dan ibu mengancam akan memotong uang jajanku selama dua bulan jika aku menolak.
Jangan kalian pikir aku membenci onun. Tidak. Aku sangat menyayanginya. Tapi aku tidak suka tinggal dan berdiam di rumahnya. Jika pulang ke Bengkulu, aku lebih memilih tinggal di rumah sepupuku. Rumah onun terlalu menyeramkan. Dan aku tidak pernah bisa tidur setiap kali berada di dalam rumah itu. Tidak sama sekali.
Seperti barusan. Lagi-lagi aku kembali bermimpi aneh. Mimpi yang sama setiap kali aku tak sengaja tertidur di rumah onun. Padahal aku baru beberapa jam menginjak rumah tua ini, tapi gadis aneh yang selalu muncul sambil menangis di dalam mimpiku itu, sudah datang menyapa. Aku tak pernah melihat wajah gadis itu. Dia selalu menangis dan duduk di tepi ranjang besi, dengan sebuah buku di pangkuannya. Dia selalu membelakangiku, hingga aku hanya mampu melihat punggungnya. Tapi kuyakini gadis itu gadis yang cantik. Dengan rambut panjang lurus yang dikepang dua dan kebaya kuno yang membungkus tubuh eloknya.
Brak! Tubuhku langsung berdiri tegak saat kudengar suara gaduh di luar kamar onun. Awalnya aku lebih memilih untuk memeluk onun dan kembali tidur. Tapi suara gaduh itu kembali terdengar, hingga kuputuskan untuk melihat apa yang terjadi di luar sana. Bagaimana jika ada rampok yang memasuki rumah? Dan dengan berbekal kayu panjang, bekas tongkat almarhum datuk dulu, aku keluar dari kamar onun.
Mataku awas mengitari seisi ruang tengah. Jika kondisi normal dan rumah ini tidak memberi mimpi buruk bagiku, aku pasti akan senang tinggal di rumah onun. Rumah kuno terbuat dari kayu jati, berbentuk rumah panggung seperti rumah Rakyat Bengkulu jaman dulu. Benda-benda yang mengisi rumah ini pun, rata-rata benda lama. Seperti ranjang besi yang ada di kamar onun—dan sebuah kamar lain yang tak sengaja pernah kulihat. Lemari kayu yang sudah ada bahkan sejak onun belum lahir. Kursi-kursi kayu dengan ukiran simbol-simbol flora, seperti bunga dan daun. Ukiran yang sama seperti yang ada di beranda rumah onun dan di atas atap rumah onun. Dan yang lebih menyenangkan lagi, rumah onun berada di atas tebing yang di belakangnya terpapar langsung pemandangan Danau Dendam Tak Sudah.
Semua yang ada di rumah onun, berumur lebih dari seratus tahun. Kudengar hal itu dari ibu. Menurut cerita ibu, rumah ini memang dijaga dan diwariskan turun temurun kepada anak sulung wanita, atau anak wanita satu-satunya. Dan kebetulan onunku merupakan anak wanita poyang satu-satunya. Sementara anak perempuan onun satu-satunya adalah ibuku. Tapi untungnya onun tidak sekolot Poyang. Ibu boleh tinggal di luar kota, bersama ayah yang memang berasal dari Tanah Jawa.
Brak! Lagi, tubuhku menegang mendengar suara itu. Cuma satu suara. Tidak terlalu gaduh. Dan kali ini aku bisa jelas mendengar dari mana asalnya. Kamar yang tadi kubilang pernah tak sengaja kulihat isinya. Kamar yang selama ini tak pernah dibuka, kecuali pada tanggal 24 Juli.
Aku menghampiri pintu kamar itu. Onun pernah memberitahunya padaku dulu. Dan hanya aku yang tahu. Onun melarangku untuk menceritakan perihal kunci dari kamar terlarang itu kepada siapa pun. Termasuk ibu.
Hup! Aku melompat untuk meraih kunci yang onun letakkan di sudut ventilasi kamar itu. Sudut yang tertutup tirai. Cepat kumasukkan kunci itu ke lubangnya, dan kubuka pintu itu perlahan. Sejenak aku terdiam saat kudapati kamar itu terang benderang, rapi dan tak berdebu. Sebuah ranjang besi—bertirai putih kelabu—terdapat di sudut kamar, dengan lemari kayu yang ada di ujungnya. Di atas meja yang ada di samping ranjang, terdapat kaca kecil, sisir tua, dan sebuah lukisan yang tergantung di atasnya. Lukisan gadis muda yang cantik. Dengan rambut panjang dikepang dua dan mengenakan kebaya kuno.
Keningku mengerut. Rasanya lukisan itu tidak asing. Dan rasanya, senyum yang diperlihatkan gadis itu, juga tak asing. Perlahan kulangkahkan kakiku memasuki kamar. Kamar itu wangi. Seperti harum bunga kenanga. Tapi tiba-tiba saja, seperti ada yang menarikku. Menarik sangat kencang hingga aku terjatuh.
***
Hari baru beranjak senja saat tahu-tahu saja aku sudah berada di tepi Danau Dendam Tak Sudah. Danau yang letaknya tak jauh dari rumah onun. Telingaku menangkap bunyi serunai dan gendang yang saling bersahutan. Sama seperti dendang khas melayu yang kudengar ketika ada acara pernikahan di Bengkulu. Dan rupanya dendang itu berasal dari sebuah rumah yang ada di seberang danau.
“Ada yang menikah? Seingatku tadi nggak ada apa-apa deh,” gumamku bingung. Aku juga bingung mendapati hari masih senja. Padahal aku ingat betul tadi sudah malam. Dan aku juga bingung kenapa aku sudah berada di tepi danau. Aneh.
Mataku beredar mengamati sekitar danau. Rasanya danau ini sedikit lebih indah daripada yang biasa kulihat. Sekitarnya masih dipenuhi bunga anggrek pensil yang seingatku sudah cukup langka sekarang. Tapi tak hanya anggrek itu yang menarik perhatianku. Melainkan seorang gadis yang berdiri di tepi tebing yang tak jauh dariku. Tebing yang berada tepat di belakang rumah onun. Tebing tempat aku biasa melihat danau ini ketika senja.
“Hei, kamu sedang apa di sana? Nanti jatuh!” Aku memekik nyaring. Kulangkahkan kakiku menuju tempat gadis itu berdiri. Aku penasaran. Dan sesampainya di sana, gadis itu sudah berbalik dan menatapku tajam.
Matanya sungguh mengerikan. Dan jika bisa berlari, rasanya aku ingin berlari saja. Tapi entah apa yang menahanku. Aku hanya bisa terpaku. Terpaku menatap manik hitam gadis itu. Dan wajahnya. Oh Tuhan....
“Ngapo baru datang kini?” tanyanya kesal. Seperti aku sudah melakukaan sebuah kesalahan besar, dan membuat dia menunggu sangat lama.
“Aku—aku minta maaf. Tapi kamu siapa? Dan apa yang kamu lakukan di halaman rumah Onunku?” Aku tak tahan untuk bertanya.
“Kau tengok pesta yang ado di seberang sano?” tanyanya lagi, tanpa menjawab pertanyaanku.  Jari telunjuknya teracung lurus ke arah rumah di seberang danau.
Aku mengangguk, “Pestanya meriah sekali,” kataku. “Tapi aku bingung sejak kapan pesta itu dilangsungkan. Dan kamu, kenapa nggak ke....”
“Dio kekasihku. Dulu di sini dio meminangku. Tapi tigo hari lalu, dio malah menikah dengan gadis dari dusun sebelah. Dio dak dak pernah nengok aku lagi. Padahal aku selalu nunggu dio di sini.” Gadis itu menyela kalimatku dengan aksen Bengkulunya yang kental. Wajahnya terlihat sangat terluka. Seperti ada yang mati di hadapannya.
Aku tertegun. Oh, kasihan betul gadis ini. Tapi dia kan masih muda. Kupikir umurnya sama denganku. “Mungkin dia bukan jodohmu. Kamu cantik. Nanti pasti ada yang bisa menerimamu,” kataku memberi semangat.
Dia mendesis. Mata bulatnya memicing tajam ke arahku. “Kau dak tahu apo-apo! Dio cuma boleh kek aku. Bukan kek tino lain. Dio cuma boleh nikah kek aku. Kareno dio la janji kek aku! Dan dio la ngambik setengah hidup aku![2]” semburnya diiringi isak menyayat.
Aku lagi-lagi hanya bisa tertegun. Gila! Itu satu-satunya kata yang terlintas di dalam kepalaku. “Ba—baiklah. Tapi, sekarang dia sudah meminang orang lain. Kamu nggak bisa menghentikannya.” Aku masih mencoba membujuk. Entahlah, biasanya aku akan langsung meninggalkan orang-orang yang berpikiran sempit seperti gadis ini. Tapi kali ini, aku seperti sangat peduli padanya. Aku benar-benar iba melihat tangisnya. Sungguh, rasanya seperti diriku ikut terluka karena tangisnya itu.
Gadis itu tak menyahut. Dia diam dan hanya menatapku. Lebih dari semenit dia menghujamku dengan tatapan yang sangat dingin. Namun sesaat kemudian, wajahnya berubah sendu. Tak ada lagi tatap dingin yang menyeramkan. Yang terpancar darinya hanyalah kesedihan dan kesakitan.
“Ini,” Dia menyodorkan sebuah buku padaku. Gegas aku meraihnya walau masih diliputi bingung. “Sampaikan ini kek Kani. Dan kau jugo harus baco buku ini. Kelak kalian akan ngerti ngapo aku milih lakukan ini.”
Aku terdiam. Barusan dia menyebut nama onun, tanpa embel-embel di depannya. Langsung nama. Dan itu membuatku sungguh terkejut. Onun di hormati di lingkungan ini, dan dia, dia berani memanggil onun hanya dengan nama.
Gadis itu tersenyum kecil, seolah tahu apa yang ada di dalam pikiranku. “Namoku Risa. Aku senang kau datang ke sini. Kuharap kelak kau akan bernasib lebih baik dariku, Risa.” Dan usai mengucapkan kata-kata itu, tanpa sempat kucegah, gadis itu berlari ke tepi tebing dan melompat. Meninggalkanku yang hanya bisa menjerit sekencang-kencangnya.
***
24 Juli, 1895....
.... Rasonyo aku dak kuat lagi. Harus kusembunyikan ke mano janin yang kini kukandung? Dio la nikah kek tino lain. Cak bungo nan lah abis maso kembangnyo. Cak kaco nan lah ancur dan dak bisa disatu lagi. Cak itulah hatiku kini. Janji tu la abis. La kau buang kek tino lain. Kalau cak ini, eloklah mati bae. Biar danau ini jadi saksi cak mano kau tenggelamkan cinto ini. Dan seluruh hidup ini.  Di sini aku mati. Di sini jugo kelak kau nyusul aku....[3]

Aku menutup lembar terakhir dari buku harian yang Risa berikan padaku. Entah sudah berapa banyak air mataku tumpah lantaran membaca kisah di dalam buku itu. Kau tahu, kupikir awalnya aku bermimpi. Tapi tidak. Setelah kulihat Risa melompat, aku berlari ke rumah onun, memasuki rumah itu tanpa permisi, dan langsung berlari menuju kamar terlarang onun. Aku hanya memejamkan mata sejenak. Lalu tahu-tahu aku sudah melihat onun yang menangis di atas ranjang besi tua kamar itu. Dan yang paling mengejutkan lagi, di tanganku masih tergenggam buku pemberian Risa. Onun juga bilang kalau aku menghilang hampir dua hari dari rumah. Pantas saja onun menangis.
Aku menyampaikan semua yang terjadi kepada onun. Awalnya onun tak percaya. Tapi begitu dia membaca buku itu, akhirnya onun mulai bercerita. Tentang Risa, yang ternyata adalah nenek buyutku. Dan tentang Risa yang ternyata sangat mirip denganku, jika aku memiliki rambut panjang.
“Onun memang sengaja memberimu nama yang sama seperti Onun Risa. Ketika kau lahir, Onun langsung melihat kemiripan di wajah kalian. Onun pikir, dengan begitu Onun Risa akan berhenti menghantui rumah ini. Tapi ternyata tidak. Onun rasa itulah alasan kenapa kau tidak pernah bisa tidur di rumah Onun. Onun Risa selalu menghantuimu, karena kau sangat mirip dengannya.”
“Sejak Onun Risa meninggal, namanya tidak pernah disebut-sebut lagi. Bagi keluarga, Onun Risa pembawa aib. Jaman dulu, meninggal bunuh diri sangatlah menjadi cercaan di sini. Tidak ada keluarga yang memaafkan apa yang Onun Risa lakukan. Karena sejak saat itu juga, keluarga kita mulai dipandang rendah.”
“Tapi seiring berubahnya jaman, tidak ada lagi yang memandang rendah keluarga kita. Tapi, nama Onun Risa tetap terlupa, dan beliau tetap dianggap pembuat aib di dalam keluarga. Tidak ada yang mengetahui tentang Onun Risa. Hanya yang mewarisi rumah ini yang tahu. Dan itu hanya Onun dan almarhumah Poyang.”
Aku mengingat kembali kata-kata onun tadi malam. Kasihan Onun Risa. Makamnya tidak pernah dikunjungi sejak seratus dua puluh tahun lalu. Bahkan kini letak makamnya sudah tidak tahu di mana. Padahal keluargaku memiliki makam khusus keluarga.
“Dulu waktu kau masih berambut panjang, Onun sangat membencinya. Karena kau sangat mirip dengan Onun Risa. Onun takut. Makanya Onun meminta kau memotong rambutmu. Dan ketika kau menghilang kemarin, Onun pikir Onun Risa membawamu pergi. Onun pikir kau tidak akan kembali, Sayang.”
Aku menghela napas panjang. Kata-kata onun masih menari-nari di dalam kepalaku. Dan itu semakin membuatku merasa sedih. Harusnya Onun Risa bisa tenang walaupun caranya mati sungguh salah. Tapi setidaknya Onun Risa telah menyelamatkan keluarga dari aib yang lebih besar.
Senja itu, aku duduk di tepi tebing tempat Onun Risa melompat. Kutaburkan bunga kenanga yang baru kupetik dari halaman depan rumah Onun. Onun Risa pasti suka bunga kenanga. Dan sekarang, kukirimkan dia bunga kesukaannya sekaligus doa untuknya. Kuharap Onun Risa bisa tenang mulai saat ini. Walaupun makamnya sudah tak tahu di mana, tapi setidaknya, kini Onun Risa bisa dianggap ada. Dan aku akan menjaga agar nama Onun Risa tidak lagi dilupakan.
Onun, ah, apa seharusnya aku memanggilmu Poyang Risa? Apa pun itu, maafkan keterlambatanku. Dan berbahagialah di sana.


Einca, 2014



[1] Nenek dalam bahasa Bengkulu Asli.
[2] Kau tidak tahu apa-apa! Dia Cuma boleh bersamaku. Bukan dengan wanita lain. Dia Cuma boleh menikah denganku. Karena dia sudah berjanji padaku! Dan dia sudah mengambil setengah hidupku.”
[3] Rasanya aku tak kuat lagi. Harus kusembunikan ke mana janin yang kini kukandung? Dia sudah menikah dengan wanita lain. Seperti bunga yang sudah habis masa kembangnya. Seperti kaca yang sudah hancur dan tak bisa disatu lagi. Seperti itulah hatiku kini. Janji itu sudah habis. Sudah kau buang dengan wanita lain. Kalau seperti ini, lebih baik mati saja. Biar danau ini jadi saksi bagaimana kau tenggelamkan cinta ini. Dan seluruh hidup ini. Di sini aku mati. DI sini juga nanti kau menyusulku.

© Airalaks, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena