Senandung RASA Ketika hati dan otak mulai tak mampu lagi menampung rasa dan lisan tertahan untuk menyenandungkannya, maka tulisan mengambil alih untuk menyampaikannya. Menyenandungkan semua tentang Rasa...

Kamis, 24 Juli 2014

Terjatuh dan Terjatuh



Sumber gambar:  einca's photo

"We can fall down again and maybe we could go on our knees again.... but we despite that and go forward..."


Kita mungkin pernah terjatuh dan mungkin akan terjatuh lagi. Tapi kita harus tetap melangkah maju.

Iya, setiap manusia pasti pernah jatuh. Siapapun itu, ga akan mungkin hidupnya selalu melayang-layang diangkasa. Sesekali pasti akan jatuh ke bumi. Tapi, jatuhnya ada banyak versi. Bisa jatuh yang slow motion, jadi bisa ambil ancang-ancang sebelum terjun bebas, ada yang jatuhnya langsung gedumbrang!!!! Ngempas banget! Lalu terpuruk masuk ke dalam tanah dan kesusahan untuk naik lagi.
Ketika lo jatuh, pasti rasanya sakit banget. Entah itu jatuh karena apapun.. di dunia ini mah yang paling sering ditemui itu, jatuh gara-gara cinta sama harta. Iya ga?

Guepun pernah jatuh dan terpuruk. Pernah ngerasa hidup ini tu ga adil. Pernah pengen memaksakan keadaan untuk kembali jadi baik. Tapi, semuanya ga berjalan lancar. Bukan gitu rencana Allah buat gue..

Sadar atau ga, ketika kita jatuh, itu Allah sesang menegur kita dan ingin mengajak kita berbicara. Bukan malah berdiam diri, terpuruk dan hancur. Itu namanya putus asa, padahal Allah ga suka dengan orang-orang yang putus asa.

Sadarilah, ketika lo jatuh. Inget. Mungkin dulu Allah pernah memberikan kelebihan harta, tapi kita lupa dan kita abaikan. Jadi, jangan marah ketika melihat orang lain banyak hartanya. Jangan cemburu jangan iri. Karena itu bukan rejeki kita..

Gitu juga dengan cinta.... mungkin Allah dulu, pernah memberikan seseorang yang benar-benar mencintai kita, tapi kita abaikan dan sia-siakan. Mungkin ngakunya, ga. 'Gue ga nyia-nyiain dia!' Tapi ketika lo harus kehilangan dia, itu tandanya Allah negur kita, agar kita sadar tentang betapa berharganya orang itu untuk kita. Hanya saja, terkadang kitanya telat menyadari teguran itu. Jadi, pas orangnya udah pergi dan mutusin ga kembali, baru kerasa sakitnya. Jadi, jangan marah kalau lo liat orang itu nantinya berbagi tawa sama orang lain. Karena lo dulu pernah nyia-nyiain tawa yang hanya dia bagi ke elo!

"Kita pernah terjatuh, dan mungkin akan sering terjatuh, karena kita manusia biasa. Tapi bukan berarti harus diam dan berkutat dengan masalah yang bikin kita jatuh terus. Karna hidup ga hanya berhenti disana. Yang lain masih banyak dan kita harus tetap melangkah maju..."




Einca, 2014

Jumat, 18 Juli 2014

Apapun yang terjadi, Kita Selalu ADA




Heyaaakkkkk...... Jreenggg.....
Judul postingan gue drama banget yak?
Hahaha... tapi itu masuk ke map of life gue yang digambarin dengan mmmm... cukup manis gitu deh sama dia. Tengkyuuuu ya Oppaa..... ^_^
Tapi, gue bukan mau bahas tentang Map Of Life gue. Yang mau gue cuap-cuapin kali ini tentang kalimat yang jadi judul postingan gue ini.




Apapun yang terjadi, kita selalu ADA....
Nggak bisa dipungkiri, setiap manusia pasti menginginkan seseorang yang bisa selalu ada untuk dirinya. Mau itu lagi nangis, lagi gundah gulana, lagi gegana (gelisah, galau, merana), lagi bahagia, lagi apapun itu. Kita pasti menginkan sosok yang selalu ada. Sosok yang tanpa perlu kita mencari dan berteriak-teriak tentang segala yang tengah kita rasakan, bisa ada dan menghibur kita.

Konsep "ADA" ini, punya andil besar dalam suatu hubungan. Terutama dalam suatu hubungan yang punya kesan spesial dan istimewa. Percaya nggak, dalam suatu hubungan, nggak cukup jika hanya satu orang yang selalu adasedangkan yang satunya ilang timbul kayak hantu. Setiap hubungan itu, pasti ada timbal baliknya. Nggak hanya ke sesama manusia. Ke makhluk hidup lainpun juga begitu. Coba deh, kalau lo melihara ayam, lo ngarepin ayam lo menghasilkan telur yang banyak, sementara lo bersihin kandang sama ngasih makannya jarang. Ayam lo, lo lepas gitu aja. Pasti tuh ayam nyari makan ke tempat lain. Jangan marah kalau ayam lo nggak balik ke rumah. Atau balik, tapi telurnya ditinggal di tempat lain. Hahaha. Bangkrut dah lo.
Gitu juga ke Tuhan, lo ngarep Tuhan noleh ke elo, ada buat lo terus, tapi lo jarang-jarang banget ada buat Tuhan. Ngadep Tuhan, menjalankan apa yang diperintahkanNya. Ngadu ke Tuhan. Pas kepepet dan ada masalah aja, baru deh heboh.... "Ya Allah, aku butuh perlindunganMu, jangan jauh dari hamba ya Allah..." Lalu mewek sesaat. tapi hanya itu. Dan hanya sesaat. Masalah kelar, lupa lagi sama Allah.

Duh, ketinggian kayaknya kalau gue ngomongin tentang konsep keTuhanan. kerendahan juga kalau konsepnya keAyaman. Hahaha,.... yang sesama manusia aja deh. Hehehe
Setiap manusia pasti punya seseorang yang menjadi tempatnya mengadu dan berkeluh kesahkan. Sahabatlah bahasa kerennya. Nah, lo punya sahabat, lo selalu pengennya sahabat lo itu ada buat lo. Nggak kemana-mana. Selalu megang tangan lo, apapun yang terjadi. tapi lo nya, nggak bisa ngelakuin hal yang sama ke sahabat lo. Lo minta dia terus ada. Tapi elonya nggak bisa ngelakuin itu juga. Lo nggak peka ketika sahabat lo sebenarnya terluka dan sakit karena ulah lo. Padahal sahabat lo itu udah mampus-mampusan buat selalu ada untuk lo. Bikin lo ketawa waktu lo galau, nangis bareng lo, nggak kemana-mana saat lo terpuruk. Lo nggak peka waktu dia sebenarnya kecewa sama ulah lo, tapi dia tutupin dengan tetap usaha senyum di depan lo. Karena apa? Karena elo sahabatnya. Lo penting buat dia. Pernah gitu nggak gays? Gue pernah ngerasain itu. Hahahaha.....

Lah ya capek otak, hati, batin. mikirin masalahnya, dia malah ketawa-ketawa sama orang lain. ealah sist, inikan masalah lo, kok jadi gue yang jungkir balik?!!!
Gedumbrang!!!!! qtwrygkjdhuidyuwgdaldjoiayeyqwfdhabdaudtwy!!!!

Inget Gays, ketika kita berani meminta, kita juga harus berani memberi. Dalam suatu hubungan itu, jika ingin hubungan itu kokoh dan nggak tergoyahkan walaupun badai topan katrina halilintar tornado puting beliung yang datang, kita harus bisa saling memberi dan menerima. Nggak cukup hanya satu yang selalu berdiri, sementara yang satunya nggak. Nggak cukup hanya satu yaang bisa menjadi tempat berteduh. Ketika kita memutuskan untuk menjalin suatu hubungan yang istimewa, apapun itu, selalu ada komitmen di dalamnya. Walaupun komitmen itu tak pernah terucap.

Apapun yang terjadi, kita selalu ADA....

Aslilah, kalau kita bisa nemuin seseorang yang seperti ini di hidup kita, itu udah salah satu bentuk bahagia nggak terduga yang Allah kasih ke kita. Karena, mencari orang yang bisa selalu ada untuk kita itu, susah. Yang judulnya udah suami istripun, terkadang suka missed. Makanya banyak yang akhirnya cerai.
So, gays. Mulai sekarang, lebih peka lagi deh sama sekitar kalian. Mungkin ada yang seperti gue ceritain tadi di sekitar kalian, hanya saja kalian belum sadar. Jangan sampai sadarnya setelah orang itu nggak ada lagi. Nyeselnya sampai ke ubun-ubun!



EInca, 2014

Kamis, 17 Juli 2014

Senandung Rinai Hujan


Hujan turun lagi...
Mungkin alam mengerti bahwa aku memang ingin menikmati rinai hujan hari ini...
Mungkin alam mengerti bahwa aku memang ingin mendengarkan senandung rinai hujan hari ini...
Selalu, sejak dulu, aku selalu bahagia saat rintik bening ini mulai menyapaa bumi. Entahlah, ada sensasi menggelitik yang sulit dijelaskan ketika telapak tangan menengadah dan terkena rinai hujan.
Ada aroma misterius yang selalu menguar setiap kali hujan datang menyapa bumi...

Hujan kali ini, mengingatkan aku pada matahariku yang telah jauh disana dan tengah berusaha menghiasi belahan bumi yang lain... Hujan ini mengingatkan aku pada matahariku yang tertawa ceria saat rintik bening ini mengenainya. Aku masih ingat dia yang dengan lucunya berkata, "hujan! Dingin ya. Duh, basah ini...."
Hahaha, iya, matahariku memang lucu! Sejak kapan coba, hujan itu panas. Mau lagi terang gimanapun dunia, yang namanya hujan tetap aja dingin.
Tapi saat itu, aku tidak menjawab seperti itu. Aku malah mengiyakan dan ikut tertawa bersamanya. Aku bahkan mengikutinya yang menarikku untuk berteduh di depan deretan ruko yang telah tutup. Di sana, matahariku mengajakku bernyanyi. Bernyanyi tentang hujan.

"Aku selalu bahagia saat hujan turun, karena aku dapat mengenangmu untukku sendiri... Aku bisa tersenyum, sepanjang hari, karena hujan telah menahan disini.... Untukku..."

Gitu kira-kira reff lagunya. ^_^

Dan memang, hujan selalu membuatku mengenangnyaa. Membuatku tersenyum dalam rintik bening lain. Hujan ini membuatku bahagia. Dengan bayangannya yang tervisualisasikan di antara rinai hujan yang mengenai jendela kamarku. Hujan ini juga membuatku ikut bersenandung, bersamaan dengan senandung rinainya yang menggelitik bumi. Walau bayangan itu tak akan pernah menjadi nyata, setidaknya aku bahagia karena bayang itu adalah sebentuk wajah ceria yang terakhir kali aku kenang.

Namun, hujan kali ini sedikit berbeda. Untuk pertama kalinya, seluruh jiwaku menangis bersamaan dengan turunnya hujan. Bukan wajah bahagia yang tervisualisasikan disana, namun wajah sedih penuh luka. Dan aku adalah penyebab matahariku terluka.

Hei, hujan!!!
Dengarkan aku, basahilah bumi tempat matahariku berada sekarang. Biarkan matahariku beristirahat sejenak dari tugasnya menyinari bumi. Berikanlah matahariku sebentuk kesejukan yang nyaman. Sampaikan pada matahariku dalam senandung rinaimu, untuk selalu tersenyum. Karena dunia membutuhkannya. Dan agar aku tak menangis lagi saat rinaimu turun menyapa bumi....



Einca, 2014



Minggu, 13 Juli 2014

Our New Page!




Huhaaa.... Judulnya, lembaran baru. Iya lembaran baru! Buku baru! Halaman baru! Apapun itu, pokoknya baru.
Itu kata sahabat gue. Dia bilang, "mulai sekarang lo-gue, buka lembaran baru. Lupain yang udah-udah. Udah cukup berkutat sama masalah yang itu-itu aja. Pokoknya, masalahnya udah selesai dan kita buka lembaran baru. Sekarang yang kita urus cukup masalah kita aja, bukan masalah orang lain. Masalah lo, atau masalah gue, kita mix jadi satu dan kita pikirin sama-sama lalu kita pecahin sama-sama. Bener-bener lembaran baru!"

Asli ya, baca kalimat ini, kalian pasti mikir gue ama dia merit gitu. Hahaha.... Nggak kok. Dia sahabat gue. Judulnya sahabat gue. Besplenpolepel gitu deh. Tapi, dia dan gue hampir punya masalah yang sama. Beda jenisnya aja sama sedikit beda level. Kalau dia hanya berkutat di masalah hati yang nggak kunjung kelar. Gue campur-campur. Ya hati, ya otak, ya batin, ya temen, ya keluarga, ya sodara, ya sahabat juga. Jadi rada beda level. Tapi sama. Paham nggak? Ya udah kalau nggak paham.

Beberapa bulan ini, hidup gue penuh sama masalah beruntut. Entah itu karena ulah gue sendiri ataupun ulah orang lain. Dan dia, nongol ujug-ujug dari antah berantah belahan bumi yang lain. Nyapa. Tau deh, ni orang lahirnya beda tanggal, bulan apalagi tahun. Udah tua dia. Ahahahaha.... Tapi, dia-gue, bisa jadi dua orang yang kece badai tralala syalala banget. Gue jatuh, dia yang tegak, dia jatuh, gue yang tegak. Manis banget nggak sih???? Hihihihihi...

Termasuk saat gue jatuh baru-baru ini, dia yang ada. Nampar gue pertama kali dan bikin gue sadar juga. Hebatnya dia nampar gue pake kata-kata yang pernah gue pake untuk nampar dia beberapa waktu sebelumnya. Keren Sob!!! Elo emang kece! ckckckck

Tapi, persahabatan gue sama dia bukan tanpa konflik ya. Gue hadir di tengah-tengah prahara dia dan seseorang, dan kalau gue yang jadi seseorang itu, gue pasti nganggep diri gue ini adalah perebut sahabat orang. Umaaaakkk!!!
Tapi nggak ye, jangan berprasangka yang nggak-nggak. Gue bukan perebut sahabat orang, perebut pacar orang, apalagi perbut suami orang. Amit-amit.... Mending gue jomblo seumur idup deh....
Sayangnya, kehadiran gue sebagai new member orang yang sekarang punya judul sahabat gue ini, memang bikin rusuh. Ya, bukan gue sih yang bikin rusuh. Gue cuma pendnegar dan pemberi saran serta nasehat, bukan memaksakan apa yang gue pikirkan untuk diikutin. Tapi susahnya sahabat gue ini cowok dan seseorang itu adalah cewek. Dan kebetulan gue juga cewek! Tapi ya gimana, takdirkan bukan gue yang atur. Jadi sahabat ataupun teman biasa ataupun jadi suami, bukan gue juga yang atur. Hanya saja, sekarang gue dan dia, ada. Untuk memecahkan segala problema yang ada. hiyaaaahhh....

Duh, gue nyampah doang ini. Bodo ah. Gue lagi pengen cuap-cuap doang. Soalnya gue lagi waras sekarang. Kalau nggak waras beda lagi ntar postingannya. Hihihi.... Gue mau atur peta konsep gue dulu. Ini juga janji gue ke sahabat gue itu dan diri gue. Gue harus nata ulang hidup gue yang hancur lebur nggak tertata serta berantakan.

Hei, Sob!!! Giliran elo yang gambarin peta konsep gue!!! :=))


Einca, 2014

Kamis, 10 Juli 2014

Jangan Mendikte Tuhan!!!

Terkadang, kita tidak pernah tahu kapan takdir Tuhan itu akan terjadi dan berbicara. Jangankan untuk orang lain, untuk diri sendiri sekalipun, kita juga tidak tahu seperti apa jenis takdir yang digariskan Tuhan. Entah itu penuh kebahagiaan, ataupun penuh kesedihan.

Bagi gue, atau mungkin sebagian orang yang lain.... Hidup itu cuma bisa nyanyi satu lagu aja, senandung kesedihan. Kalau bahasa kerennya tuh, ELEGI. Iyap, sedih terus. Ada aja masalah, duka dan nestapa yang datang. Gue atau mungkin sebagian lainnya yang terlahir dengan iringan senandung kesedihan, hanya beberapa saja yang sanggup mengubahnya menjadi senandung tawa.

Pernahkan, punya masalah, dikit aja. Terus ngeluh, "Duh, hidup gue kok menyedihkan banget...." Padahal itu baru kena masalah yang seupil. Gimana kalau kena masalah yang besar, berkepanjangan, sepanjang masa dan mengancam kehidupan? Seperti saudara kita yang di Palestina, misalnya. Atau negara-negara lain yang rakyatnya lebih banyak menderita daripada hepinya. Kita, yang liat doang di TV, atau Internet, atau apapun itu, pasti langsung miris dan nggak tega. mungkin ada juga yang di dalam hatinya langsung ngomong, "untung, gue nggak tinggal di Negara itu. kalau nggak, udah jadi bubur debu gue!" Nggak usah muna dengan bilang nggak. Guepun dulu sempat mikir gitu kok. Hehehe

Banyak orang, yang baru disentil masalah dikit, diSENTIL loh ya, bukan di TIMPA, langsung ngeluh. Nyalahin keadaan. Nyalahin sekitar. Malah ada yang nyalahain Tuhannya. Baru ditinggal pacar doang, ada yang udah kaya ditinggal mati Ibu/Bapaknya. Malah lebih sedihan ditinggal pergi pacar.

Hellooooww.... Plislah. Coba aja kalian semua buka mata. Buka lebar-lebar. Masalah nggak hanya itu. Jauh lebih banyak masalah lain dalam hidup yang lebih penting untuk dipikirin. Misalnya, kaya mikirin gimana kehidupan kita ke depan. Kan hidup nggak hanya saat lo lagi kena masalah itu doang. Yang di depan masih panjang. Insya Allah kalau kalian umur panjang. Amiiinnnn....
Terkadang, masalah yang datang, merupakan masalah yang sama sekali nggak kita pikir bakalan Tuhan kasih ke kita. Jangan pernah berkata, "Tuhan tuh nggak adil! Gue selalu baik-baik aja, gue selalu tabah, gue selalu sabar, tapi kenapa gue dikasih masalah terus? Salah gue apa? Dosa gue apa? Kenapa Tuhan nggak adil sama gue?" Lalu duduk menatap langit dan disorot kamera dari atas. Hahahaa...

Plislah, nggak boleh ngomong gitu. Sadar nggak? Semakin banyak masalah yang Tuhan kasih, itu tandanya semakin sayang Tuhan sama kita. Semakin banyak tangis dalam sabar dan doa yang kita lakukan, semakin Tuhan meninggikan derajat kita.

Jangan pernah mendikte Tuhan!
mau ini, mau itu, dan sebagainya. Kita hanya punya kewajiban untuk bersenandung dalam doa dan berharap Tuhan mengabulkannya.
Banyakkan contoh kasusnya yang langsung desperate berat waktu disentil cobaan. Nggak usah jauh-jauh, Gue dulu juga pernah desperate kok waktu kena masalah yang meluluhlantakkan dunia gue. Putus asa. Ngerasa Tuhan nggak adil. Lalu gue mendikte Tuhan, untuk membuat gue bahagia.  Iya, gue pernah bahagia banget. Dulu, dan itu hanya sebentar. Lalu, pufht! Semua ilang bagai ditelan bumi. Lenyap nggak berbekas. Bahagia gue hilang di depan mata.

Sadar atau nggak, selama ini kita banyak mendikte Tuhan. Meminta ini dan itu, tapi tak pernah melakukannya dengan benar dan seharusnya. Kita hanya boleh memohon, bukan meminta apalagi mendikte Tuhan.
Guepun, sekarang masih memohon. memohon untuk Tuhan memberikan gue sebentuk kebahagiaan. Mengubah elegi itu menjadi tawa. Benar-benar tawa. Bukan tawa berupa topeng. Tapi sebentuk tawa yang bisa membuat hidup tenang dan damai.
Berharap ada tangan-tangan kecil Tuhan yang Tuhan kirimkan sebagai ganti tangan-tangan kecilNya yang telah Ia ambil terlebih dahulu. Berharap tangan-tangan itu dikirimkan kepada seseorang yang Ia percaya untuk berbagi senandung kesedihan dan mampu mengubahnya menjadi senandung tawa yang indah.

Tuhan itu maha adil. Walaupun tak kasat mata, selalu ada sebentuk kebahagiaan yang Tuhan selipkan disetiap duka yang datang. Tuhan selalu memiliki kuasa untuk mengatur sebentuk kebahagiaan yang bahkan tak pernah kita duga, dari sekian banyak rintihan luka yang kita rasakan.

Berbahagialah, saat Tuhan memberikanmu cobaan, itu pertanda Tuhan benar-benar memperhatikan kita dan benar-benar sayang terhadap kita. Jangan pernah merasa iri untuk kebahagiaan yang dirasakan orang lain. Karena, Tuhan selalu menjanjikan kebahagiaan untuk umatnya yang selalu bersama dalam setiap tetes air mata yang terjatuh, saat kita menyampaikan risalah hati kita terhadapNya.



Einca, 2014

Sabtu, 05 Juli 2014

Senandung "Rasa" - Bulan, Bintang, Matahari, Awan Biru

Pernah mengharapkan keadaan menjadi baik-baik saja...
Benar-benar baik-baik saja...
Iya, semua memang baik-baik saja. Setidaknya untuk sebagian orang, atau mungkin malah banyak orang....

Menahan luka, menumpuk sesak, meredam perih. Demi untuk melihat Matahari terus bersinar dan selalu bersinar. Bulan pernah meminta untuk menjadi awan, agar ia bisa selalu berada di tempat dan langit yang sama dengan Mataharinya. Namun Bulan, tetaplah Bulan. Ia diciptakan untuk menemani malam bersama Bintang. Bukan bersama Matahari yang selalu terlelap saat Dewi Malam mulai menjelang.

Pernah berharap Tuhan mengijinkan Bulan berada di satu langit yang sama tanpa terpisah waktu dengan Matahari, namun Tuhan tak mengijinkan. Bumi akan menggelap dan membutakan seisinya, jika Matahari dan Bulan terus bersama.Karena Bumi tak mungkin terus menyaksikan gerhana yang tercipta dari pertemuan itu.

Ya, gerhana memang indah. Sering ditunggu oleh penghuni Bumi yang selalu tertarik dengan fenomena semesta yang jarang-jarang terjadi itu. Namun gerhana tak selamanya menyenangkan. Bumi menggelap. Karena itu Tuhan hanya mengijinkan keduanya bertemu selama beberapa menit yang singkat. Cukup beberapa menit, jika tidak, Bumi akan kiamat.

Lalu Bulan berharap ada awan yang cukup dekat untuk bisa merangkul Matahari dalam kedamaian yang indah. Ya, ada awan cerah. Awan berwarna biru yang indah, tak pucat seperti Bulan. Walau samar, semburat Matahari mulai berangsur cerah. Awan itu menggantikan gelap yang ditinggalkan dari hasil pertemuannya bersama Bulan. Bergandeng dan bertumpuk bersama Awan Biru yang tak pernah meninggalkannya. Tak seperti Bulan yang memilih berlari... menjauh dan menghilang dalam pekatnya langit malam. Awan Biru itu tetap ada bersama Matahari. Entah ia tahu atau tidak, tentang duka yang ditingggalkan Bulan kepada Matahari, karena Matahari pandai menyembunyikan luka dibalik sinar cerahnya.

Ya, harusnya Bulan tak pernah mengharap Matahari. Bulan tercipta bersama Bintang. Untungnya Bintang selalu mampu membuat Bulan tersenyum. Dengan sinarnya yang tak seberapa terang, Bintang merangkul Bulan untuk selalu bersinar. Ada cahaya yang saling mereka pancarkan untuk tetap menghias malam yang kelam.

Tapi Bulan tetap merindukan Matahari. Tapi juga Tuhan, mungkin memiliki kehendak dan rencana yang lain. Tuhan ingin semestanya seimbang. Dan keseimbangan itu tak mungkin terjadi jika Bulan terus memaksa untuk bersama Matahari... Bumi menggelap dan semesta menghilang.

Tuhan tak ingin membuat semestanya berduka. Mungkin karena itulah Tuhan mengirimkan satu Bintangnya yang paling terang untuk merangkul Ratu malamnya yangselalu dipeluk duka. Juga mengirimkan Awan Biru untuk mendekap Raja siangnya yang telah digoreskan duka.
Tak setinggi Matahari yang menjadi Raja. Tak setinggi Bulan yang menjadi Ratu. Namun Pangeran Bintang lebih dari cukup untuk menemani cahaya Bulan yang mulai meredup, dan juga Putri Awan yang lebih dari cukup untuk menemani Matahari yang mulai menggelap.
Karena Bintang tak akan pergi dari malam Bulan. Karena Bulan tak akan pernah bercahaya tanpa Bintangnya. Mungkin itu juga alasan Tuhan mengirimkan Awan Biru untuk Matahari.

Tuhan ingin menyelamatkan semestanya...
Tuhan ingin menyelamatkan alamnya...
Tapi Tuhan selalu adil dan tak akan membiarkan dunianya meredup dalam kesendirian yang kelam...



Einca, 2014

Rabu, 02 Juli 2014

Catatan Hati Seorang Wanita



Disini, gue bukan mau bahas tentang sinetron itu yang judulnya nyaris sama kayak judul postingan ini ya. soalnya, di sinetron itukan konteksnya "istri", nah gue bahas yang konteksnya "wanita". Kayak gue. Walaupun banyak yang ngomong gue setengah-setengah, tapi gue wanita kok. Alhamdulillaaaahh.... :D

Back to the topic,,,, buat kalian para wanita, pasti kalian punya catatan hati masing-masingkan? Entah itu sedih, susah, gundah, galau, seneng, bahagia, apapun itu. Catatan hati yang gue maksud, bukan berupa tulisan di buku, ataupun di blog, apalagi di note HaPe. Catatan hati yang dimaksud di sini itu, catatan hati yang hanya diri kita sendiri, wanita, yang tahu tentang itu. Kalaupun ada orang lain yang tahu, itu adalah orang yang bener-bener kenal sama si wanita itu, tanpa wanita itu perlu ngomong. Atau, seseorang yang bener-bener dipercaya 1000% sama si wanita itu, sehingga si wanita itu selalu menceritakan apapun yang dia nggak ceritain ke orang lain. Entah judulnya apa.

Setiap wanita itu, pasti punya rahasia yang maunya dia sendiri aja yang tahu. Kalaupun wanita itu mau menceritakan apa yang ada di hatinya ke orang lain, pasti nggak gamblang. Ruwet. Lebih ruwet daripada macetnya jalananan Jakarta, lebih ruwet daripada puntalan benang kusut.

"Hati wanita itu, lebih dalam daripada lautan terdalam sekalipun." Pernah denger quote ini nggak? Gue lupa siapa yang ngomong, pokoknya ada. Iya, emang. Kadang, runtutan kata yang nyaris mirip novelet, nggak cukup untuk seorang cowok bisa memahami apa isi hati sebenarnya si cewek ini. Walaupun si cewek udah ngomong nyaris berulang-ulang, si cowok tetap nggak sadar. Entah emang karena si cowoknya yang begok kuadrat, atau emang si ceweknya yang ribet. Tapi seringkan kejadian kayak gitu dalam suatu hubungan. Hubungan apapun. Yang jelas, hubungan yang cukup dekat. Hingga bisa sampai ke tahap yang, si cowok harus mengerti si cewek, begitu juga sebaliknya.

Ini pendapat gue sebagai wanita.
Sebenarnya, bukan si cewek ini mau memperkeruh suasana. Bukan si cewek ini, mau main-mainin otak si cowok. Bukan si cewek ini mau bikin teka-teki dan muter-muter apa yang dia mau bilang. Hanya saja, wanita, terkadang punya banyak banget pertimbangan sebelum dia ngomongin apapun yang mau dia omongin itu. Nggak kayak cowok, yang suka ngomong sebelum mikir dan kadang nggak sadar kalau yang dia omong itu nyakitin. Nyadarnya setelah si cewek pergi. Ketika si cewek diam, saat itulah kami mencatat semua yang kami ingin sampaikan itu di dalam catatan hati kami sendiri. Bukan karena kami ingin membuat para cowok bingung atau galau sendiri, tapi kami tengah memilah, baik atau tidak kalau yang kami simpan sendiri itu kami sampaikan. Dan kami juga memilah kepada siapa yang benar-benar bisa dipercaya untuk mengungkapkan segala catatan hati kami itu.

Terkadang, cowok itu punya masalah dalam hal memahami gimana cewek itu sebenarnya. terkadang, cowok cuma mau ambil yang kelihatan di permukaannya aja. Nggak mau ribet ngorek-ngorek sampai ke dalam. Ya, siapa sih yang mau ribet, gue juga ogah diribetin. Tapi, wanita itu adalah makhluk yang punya 9 hati. Bayanginlah, kalau 9 hati, yang cowok sentuh hanya permukaannya saja, berarti itu lapisan pertama, gimana sama 8 lapis berikutnya? Lo nggak akan pernah tahu gimana cewek yang deket sama lo itu. samapai nikahpun, tetap bakal kebawa, kalau otak cowok yang kabarnya ada 9 itu nggak mau digunain buat memahami gimana si cewek yang si cowok bilang adalah orang terdekatnya sekarang!

Kalau kalian, para cowok nggak mau dibikin ribet, kusut, semrawut, tu otak, cobalah belajar memahami cewek yang menurut lo lo anggap penting di hidup lo. Penting buat cowok tuh, nggak melulu itu istri atau ibu atau saudara kandungkan? Bisa sahabat lo, atau siapa deh gitu. Pokoknya yang lo anggap penting.

Jangan ngeluarin kata-kata, yang itu bisa bikin si cewek ini nangis! Apalagi sampai si cewek ambil keputusan yang sebenarnya si cewek ini nggak suka. Tapi makhluk yang namanya wanita itu, memang selalu membutuhkan perhatian lebih dan ekstra luar biasa. Terutama dari cowok yang udah berkali-kali dia bilang, "elo tuh, penting buat gue. Terserah apapun elo, elo itu penting buat gue. Jangan kemana-mana, temenin gue.". OMG Helloooowww..... Para pria, itu tandanya elo benar-benar berharga buat si cewek.

Wanita itu juga suka menyampaikan maksud yang bertolak belakang dengan apa yang dia omong. Kalau ada cewek yang ngomong, "pergi aja lo! Nggak usah hubungi gue lagi!". Itu bukan berarti sama persis artinya dengan apa yang si cewek mau (tapi ini berlaku buat cowok yang seperti gue bilang di atas tadi ya, cowok yang dianggap penting sama si cewek, gitu juga sebaliknya). Ketika ada cewek yang ngomong kayak gitu, itu bisa jadi dia nggak benar-benar mau si cowok ini pergi. Dia ngomong gitu, karena dia sakit hati sama apapun yang pernah cowok itu ucapkan sebelumnya. Tapi kalau si cowok malah menyanggupi, dan benar-benar pergi, ada dua kemungkinan. Si cewek bakal nahan langsung, atau si cewek pasrah sama keadaan setelah menjelaskan apapun maksud dari ucapanya yang berbelit dan berkelok itu. Jadi hasil akhir, ya tinggal di si cowok. Kalau dia tetap pergi, dia nggak pernah tulus waktu minta si cewek untuk jadi sahabat, pacar, ataupun istri. 

Guys, wanita itu sebenarnya nggak serumit itu. Kami hanya perlu dipahami. Kami hanya perlu, si pria yang kami anggap penting dan yang selalu memposisikan diri mereka penting untuk kami itu, ada. Ada, bukan sekedar kata. Benar-benar ada. Walaupun nggak melulu ada itu dengan si pria wujudnya nongol nyata di depan mata. Tapi dia bisa ada. Ada di sela waktu sempit mereka untuk kami. Walaupun hanya sekedar, "lo sehat nggak? Kabar lo gimana? Eh gue mau ngerjain itu dulu ya. Ntar gue balas.". Itu doang cukup. Itu untuk wanita yang bisa memahami juga tapi.

Intinya, kami, para wanita ini, hanya ingin dipahami dan dimengerti. Kayak lagunya Kangen Band itu loh.. hehehe.... Selama kalian para pria, nggak mau make keseluruhan otak kalian untuk menghadapi wanita yang kalian bilang penting untuk kalian, jangan harap kalian bisa tahu apapun yang wanita itu mau. Dan selama itu juga, otak sama hati kalian bakalan capek. Capek mikir yang cuma di permukaan doang dan capek hati yang nggak bisa memahami juga. Hati pria tuh cuma 1, beda kayak wanita, jadi gunainlah otak kalian yang banyak itu, untuk nyeimbangin hati kalian.
Gitu juga buat para ladies, selama kalian hanya memakain 9 perasaan kalian tanpa menggunakan otak kalian, kalian nggak akan pernah jadi wanita. Jadi, kalau kalian ingin menyampaikan apapun yang 9 hati kalian mau, pakai juga otak kalian. Biar imbang.

Ketika ada dua orang berlainan jenis, memutuskan untuk menjadi entah itu sahabat, pacar ataupun suami istri, mereka harus bisa menyatukan 9 hati ke 1 hati dan 9 otak ke satu otak. Apapun itu judulnya, hubungan yang sanggup menyatukan 9:1 ini, mampu membuat hubungan itu bertahan. Walaupun untuk yang judulnya sahabatan, gue ragu kalau bakalan tetap jadi sahabat. Hahahahaha

"Catatan hati seorang wanita itu, rahasia hati itu, pasti akan mereka ucapkan ke satu orang yang mereka paling percaya. Orang yang selalu ada. Orang yang sanggup memberikan tangannya untuk si wanita dan tetap bertahan dan mencoba untuk terus memahami walaupun wanita itu sudah sedemikian bikin kusut otaknya. Dan saat itulah, si pria harus sadar, kalau si pria itu teramat sangat penting untuk si wanita"


Einca, 2014

© Airalaks, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena