Senandung RASA Ketika hati dan otak mulai tak mampu lagi menampung rasa dan lisan tertahan untuk menyenandungkannya, maka tulisan mengambil alih untuk menyampaikannya. Menyenandungkan semua tentang Rasa...

Kamis, 10 Juli 2014

Jangan Mendikte Tuhan!!!

Terkadang, kita tidak pernah tahu kapan takdir Tuhan itu akan terjadi dan berbicara. Jangankan untuk orang lain, untuk diri sendiri sekalipun, kita juga tidak tahu seperti apa jenis takdir yang digariskan Tuhan. Entah itu penuh kebahagiaan, ataupun penuh kesedihan.

Bagi gue, atau mungkin sebagian orang yang lain.... Hidup itu cuma bisa nyanyi satu lagu aja, senandung kesedihan. Kalau bahasa kerennya tuh, ELEGI. Iyap, sedih terus. Ada aja masalah, duka dan nestapa yang datang. Gue atau mungkin sebagian lainnya yang terlahir dengan iringan senandung kesedihan, hanya beberapa saja yang sanggup mengubahnya menjadi senandung tawa.

Pernahkan, punya masalah, dikit aja. Terus ngeluh, "Duh, hidup gue kok menyedihkan banget...." Padahal itu baru kena masalah yang seupil. Gimana kalau kena masalah yang besar, berkepanjangan, sepanjang masa dan mengancam kehidupan? Seperti saudara kita yang di Palestina, misalnya. Atau negara-negara lain yang rakyatnya lebih banyak menderita daripada hepinya. Kita, yang liat doang di TV, atau Internet, atau apapun itu, pasti langsung miris dan nggak tega. mungkin ada juga yang di dalam hatinya langsung ngomong, "untung, gue nggak tinggal di Negara itu. kalau nggak, udah jadi bubur debu gue!" Nggak usah muna dengan bilang nggak. Guepun dulu sempat mikir gitu kok. Hehehe

Banyak orang, yang baru disentil masalah dikit, diSENTIL loh ya, bukan di TIMPA, langsung ngeluh. Nyalahin keadaan. Nyalahin sekitar. Malah ada yang nyalahain Tuhannya. Baru ditinggal pacar doang, ada yang udah kaya ditinggal mati Ibu/Bapaknya. Malah lebih sedihan ditinggal pergi pacar.

Hellooooww.... Plislah. Coba aja kalian semua buka mata. Buka lebar-lebar. Masalah nggak hanya itu. Jauh lebih banyak masalah lain dalam hidup yang lebih penting untuk dipikirin. Misalnya, kaya mikirin gimana kehidupan kita ke depan. Kan hidup nggak hanya saat lo lagi kena masalah itu doang. Yang di depan masih panjang. Insya Allah kalau kalian umur panjang. Amiiinnnn....
Terkadang, masalah yang datang, merupakan masalah yang sama sekali nggak kita pikir bakalan Tuhan kasih ke kita. Jangan pernah berkata, "Tuhan tuh nggak adil! Gue selalu baik-baik aja, gue selalu tabah, gue selalu sabar, tapi kenapa gue dikasih masalah terus? Salah gue apa? Dosa gue apa? Kenapa Tuhan nggak adil sama gue?" Lalu duduk menatap langit dan disorot kamera dari atas. Hahahaa...

Plislah, nggak boleh ngomong gitu. Sadar nggak? Semakin banyak masalah yang Tuhan kasih, itu tandanya semakin sayang Tuhan sama kita. Semakin banyak tangis dalam sabar dan doa yang kita lakukan, semakin Tuhan meninggikan derajat kita.

Jangan pernah mendikte Tuhan!
mau ini, mau itu, dan sebagainya. Kita hanya punya kewajiban untuk bersenandung dalam doa dan berharap Tuhan mengabulkannya.
Banyakkan contoh kasusnya yang langsung desperate berat waktu disentil cobaan. Nggak usah jauh-jauh, Gue dulu juga pernah desperate kok waktu kena masalah yang meluluhlantakkan dunia gue. Putus asa. Ngerasa Tuhan nggak adil. Lalu gue mendikte Tuhan, untuk membuat gue bahagia.  Iya, gue pernah bahagia banget. Dulu, dan itu hanya sebentar. Lalu, pufht! Semua ilang bagai ditelan bumi. Lenyap nggak berbekas. Bahagia gue hilang di depan mata.

Sadar atau nggak, selama ini kita banyak mendikte Tuhan. Meminta ini dan itu, tapi tak pernah melakukannya dengan benar dan seharusnya. Kita hanya boleh memohon, bukan meminta apalagi mendikte Tuhan.
Guepun, sekarang masih memohon. memohon untuk Tuhan memberikan gue sebentuk kebahagiaan. Mengubah elegi itu menjadi tawa. Benar-benar tawa. Bukan tawa berupa topeng. Tapi sebentuk tawa yang bisa membuat hidup tenang dan damai.
Berharap ada tangan-tangan kecil Tuhan yang Tuhan kirimkan sebagai ganti tangan-tangan kecilNya yang telah Ia ambil terlebih dahulu. Berharap tangan-tangan itu dikirimkan kepada seseorang yang Ia percaya untuk berbagi senandung kesedihan dan mampu mengubahnya menjadi senandung tawa yang indah.

Tuhan itu maha adil. Walaupun tak kasat mata, selalu ada sebentuk kebahagiaan yang Tuhan selipkan disetiap duka yang datang. Tuhan selalu memiliki kuasa untuk mengatur sebentuk kebahagiaan yang bahkan tak pernah kita duga, dari sekian banyak rintihan luka yang kita rasakan.

Berbahagialah, saat Tuhan memberikanmu cobaan, itu pertanda Tuhan benar-benar memperhatikan kita dan benar-benar sayang terhadap kita. Jangan pernah merasa iri untuk kebahagiaan yang dirasakan orang lain. Karena, Tuhan selalu menjanjikan kebahagiaan untuk umatnya yang selalu bersama dalam setiap tetes air mata yang terjatuh, saat kita menyampaikan risalah hati kita terhadapNya.



Einca, 2014

Sabtu, 05 Juli 2014

Senandung "Rasa" - Bulan, Bintang, Matahari, Awan Biru

Pernah mengharapkan keadaan menjadi baik-baik saja...
Benar-benar baik-baik saja...
Iya, semua memang baik-baik saja. Setidaknya untuk sebagian orang, atau mungkin malah banyak orang....

Menahan luka, menumpuk sesak, meredam perih. Demi untuk melihat Matahari terus bersinar dan selalu bersinar. Bulan pernah meminta untuk menjadi awan, agar ia bisa selalu berada di tempat dan langit yang sama dengan Mataharinya. Namun Bulan, tetaplah Bulan. Ia diciptakan untuk menemani malam bersama Bintang. Bukan bersama Matahari yang selalu terlelap saat Dewi Malam mulai menjelang.

Pernah berharap Tuhan mengijinkan Bulan berada di satu langit yang sama tanpa terpisah waktu dengan Matahari, namun Tuhan tak mengijinkan. Bumi akan menggelap dan membutakan seisinya, jika Matahari dan Bulan terus bersama.Karena Bumi tak mungkin terus menyaksikan gerhana yang tercipta dari pertemuan itu.

Ya, gerhana memang indah. Sering ditunggu oleh penghuni Bumi yang selalu tertarik dengan fenomena semesta yang jarang-jarang terjadi itu. Namun gerhana tak selamanya menyenangkan. Bumi menggelap. Karena itu Tuhan hanya mengijinkan keduanya bertemu selama beberapa menit yang singkat. Cukup beberapa menit, jika tidak, Bumi akan kiamat.

Lalu Bulan berharap ada awan yang cukup dekat untuk bisa merangkul Matahari dalam kedamaian yang indah. Ya, ada awan cerah. Awan berwarna biru yang indah, tak pucat seperti Bulan. Walau samar, semburat Matahari mulai berangsur cerah. Awan itu menggantikan gelap yang ditinggalkan dari hasil pertemuannya bersama Bulan. Bergandeng dan bertumpuk bersama Awan Biru yang tak pernah meninggalkannya. Tak seperti Bulan yang memilih berlari... menjauh dan menghilang dalam pekatnya langit malam. Awan Biru itu tetap ada bersama Matahari. Entah ia tahu atau tidak, tentang duka yang ditingggalkan Bulan kepada Matahari, karena Matahari pandai menyembunyikan luka dibalik sinar cerahnya.

Ya, harusnya Bulan tak pernah mengharap Matahari. Bulan tercipta bersama Bintang. Untungnya Bintang selalu mampu membuat Bulan tersenyum. Dengan sinarnya yang tak seberapa terang, Bintang merangkul Bulan untuk selalu bersinar. Ada cahaya yang saling mereka pancarkan untuk tetap menghias malam yang kelam.

Tapi Bulan tetap merindukan Matahari. Tapi juga Tuhan, mungkin memiliki kehendak dan rencana yang lain. Tuhan ingin semestanya seimbang. Dan keseimbangan itu tak mungkin terjadi jika Bulan terus memaksa untuk bersama Matahari... Bumi menggelap dan semesta menghilang.

Tuhan tak ingin membuat semestanya berduka. Mungkin karena itulah Tuhan mengirimkan satu Bintangnya yang paling terang untuk merangkul Ratu malamnya yangselalu dipeluk duka. Juga mengirimkan Awan Biru untuk mendekap Raja siangnya yang telah digoreskan duka.
Tak setinggi Matahari yang menjadi Raja. Tak setinggi Bulan yang menjadi Ratu. Namun Pangeran Bintang lebih dari cukup untuk menemani cahaya Bulan yang mulai meredup, dan juga Putri Awan yang lebih dari cukup untuk menemani Matahari yang mulai menggelap.
Karena Bintang tak akan pergi dari malam Bulan. Karena Bulan tak akan pernah bercahaya tanpa Bintangnya. Mungkin itu juga alasan Tuhan mengirimkan Awan Biru untuk Matahari.

Tuhan ingin menyelamatkan semestanya...
Tuhan ingin menyelamatkan alamnya...
Tapi Tuhan selalu adil dan tak akan membiarkan dunianya meredup dalam kesendirian yang kelam...



Einca, 2014

Rabu, 02 Juli 2014

Catatan Hati Seorang Wanita



Disini, gue bukan mau bahas tentang sinetron itu yang judulnya nyaris sama kayak judul postingan ini ya. soalnya, di sinetron itukan konteksnya "istri", nah gue bahas yang konteksnya "wanita". Kayak gue. Walaupun banyak yang ngomong gue setengah-setengah, tapi gue wanita kok. Alhamdulillaaaahh.... :D

Back to the topic,,,, buat kalian para wanita, pasti kalian punya catatan hati masing-masingkan? Entah itu sedih, susah, gundah, galau, seneng, bahagia, apapun itu. Catatan hati yang gue maksud, bukan berupa tulisan di buku, ataupun di blog, apalagi di note HaPe. Catatan hati yang dimaksud di sini itu, catatan hati yang hanya diri kita sendiri, wanita, yang tahu tentang itu. Kalaupun ada orang lain yang tahu, itu adalah orang yang bener-bener kenal sama si wanita itu, tanpa wanita itu perlu ngomong. Atau, seseorang yang bener-bener dipercaya 1000% sama si wanita itu, sehingga si wanita itu selalu menceritakan apapun yang dia nggak ceritain ke orang lain. Entah judulnya apa.

Setiap wanita itu, pasti punya rahasia yang maunya dia sendiri aja yang tahu. Kalaupun wanita itu mau menceritakan apa yang ada di hatinya ke orang lain, pasti nggak gamblang. Ruwet. Lebih ruwet daripada macetnya jalananan Jakarta, lebih ruwet daripada puntalan benang kusut.

"Hati wanita itu, lebih dalam daripada lautan terdalam sekalipun." Pernah denger quote ini nggak? Gue lupa siapa yang ngomong, pokoknya ada. Iya, emang. Kadang, runtutan kata yang nyaris mirip novelet, nggak cukup untuk seorang cowok bisa memahami apa isi hati sebenarnya si cewek ini. Walaupun si cewek udah ngomong nyaris berulang-ulang, si cowok tetap nggak sadar. Entah emang karena si cowoknya yang begok kuadrat, atau emang si ceweknya yang ribet. Tapi seringkan kejadian kayak gitu dalam suatu hubungan. Hubungan apapun. Yang jelas, hubungan yang cukup dekat. Hingga bisa sampai ke tahap yang, si cowok harus mengerti si cewek, begitu juga sebaliknya.

Ini pendapat gue sebagai wanita.
Sebenarnya, bukan si cewek ini mau memperkeruh suasana. Bukan si cewek ini, mau main-mainin otak si cowok. Bukan si cewek ini mau bikin teka-teki dan muter-muter apa yang dia mau bilang. Hanya saja, wanita, terkadang punya banyak banget pertimbangan sebelum dia ngomongin apapun yang mau dia omongin itu. Nggak kayak cowok, yang suka ngomong sebelum mikir dan kadang nggak sadar kalau yang dia omong itu nyakitin. Nyadarnya setelah si cewek pergi. Ketika si cewek diam, saat itulah kami mencatat semua yang kami ingin sampaikan itu di dalam catatan hati kami sendiri. Bukan karena kami ingin membuat para cowok bingung atau galau sendiri, tapi kami tengah memilah, baik atau tidak kalau yang kami simpan sendiri itu kami sampaikan. Dan kami juga memilah kepada siapa yang benar-benar bisa dipercaya untuk mengungkapkan segala catatan hati kami itu.

Terkadang, cowok itu punya masalah dalam hal memahami gimana cewek itu sebenarnya. terkadang, cowok cuma mau ambil yang kelihatan di permukaannya aja. Nggak mau ribet ngorek-ngorek sampai ke dalam. Ya, siapa sih yang mau ribet, gue juga ogah diribetin. Tapi, wanita itu adalah makhluk yang punya 9 hati. Bayanginlah, kalau 9 hati, yang cowok sentuh hanya permukaannya saja, berarti itu lapisan pertama, gimana sama 8 lapis berikutnya? Lo nggak akan pernah tahu gimana cewek yang deket sama lo itu. samapai nikahpun, tetap bakal kebawa, kalau otak cowok yang kabarnya ada 9 itu nggak mau digunain buat memahami gimana si cewek yang si cowok bilang adalah orang terdekatnya sekarang!

Kalau kalian, para cowok nggak mau dibikin ribet, kusut, semrawut, tu otak, cobalah belajar memahami cewek yang menurut lo lo anggap penting di hidup lo. Penting buat cowok tuh, nggak melulu itu istri atau ibu atau saudara kandungkan? Bisa sahabat lo, atau siapa deh gitu. Pokoknya yang lo anggap penting.

Jangan ngeluarin kata-kata, yang itu bisa bikin si cewek ini nangis! Apalagi sampai si cewek ambil keputusan yang sebenarnya si cewek ini nggak suka. Tapi makhluk yang namanya wanita itu, memang selalu membutuhkan perhatian lebih dan ekstra luar biasa. Terutama dari cowok yang udah berkali-kali dia bilang, "elo tuh, penting buat gue. Terserah apapun elo, elo itu penting buat gue. Jangan kemana-mana, temenin gue.". OMG Helloooowww..... Para pria, itu tandanya elo benar-benar berharga buat si cewek.

Wanita itu juga suka menyampaikan maksud yang bertolak belakang dengan apa yang dia omong. Kalau ada cewek yang ngomong, "pergi aja lo! Nggak usah hubungi gue lagi!". Itu bukan berarti sama persis artinya dengan apa yang si cewek mau (tapi ini berlaku buat cowok yang seperti gue bilang di atas tadi ya, cowok yang dianggap penting sama si cewek, gitu juga sebaliknya). Ketika ada cewek yang ngomong kayak gitu, itu bisa jadi dia nggak benar-benar mau si cowok ini pergi. Dia ngomong gitu, karena dia sakit hati sama apapun yang pernah cowok itu ucapkan sebelumnya. Tapi kalau si cowok malah menyanggupi, dan benar-benar pergi, ada dua kemungkinan. Si cewek bakal nahan langsung, atau si cewek pasrah sama keadaan setelah menjelaskan apapun maksud dari ucapanya yang berbelit dan berkelok itu. Jadi hasil akhir, ya tinggal di si cowok. Kalau dia tetap pergi, dia nggak pernah tulus waktu minta si cewek untuk jadi sahabat, pacar, ataupun istri. 

Guys, wanita itu sebenarnya nggak serumit itu. Kami hanya perlu dipahami. Kami hanya perlu, si pria yang kami anggap penting dan yang selalu memposisikan diri mereka penting untuk kami itu, ada. Ada, bukan sekedar kata. Benar-benar ada. Walaupun nggak melulu ada itu dengan si pria wujudnya nongol nyata di depan mata. Tapi dia bisa ada. Ada di sela waktu sempit mereka untuk kami. Walaupun hanya sekedar, "lo sehat nggak? Kabar lo gimana? Eh gue mau ngerjain itu dulu ya. Ntar gue balas.". Itu doang cukup. Itu untuk wanita yang bisa memahami juga tapi.

Intinya, kami, para wanita ini, hanya ingin dipahami dan dimengerti. Kayak lagunya Kangen Band itu loh.. hehehe.... Selama kalian para pria, nggak mau make keseluruhan otak kalian untuk menghadapi wanita yang kalian bilang penting untuk kalian, jangan harap kalian bisa tahu apapun yang wanita itu mau. Dan selama itu juga, otak sama hati kalian bakalan capek. Capek mikir yang cuma di permukaan doang dan capek hati yang nggak bisa memahami juga. Hati pria tuh cuma 1, beda kayak wanita, jadi gunainlah otak kalian yang banyak itu, untuk nyeimbangin hati kalian.
Gitu juga buat para ladies, selama kalian hanya memakain 9 perasaan kalian tanpa menggunakan otak kalian, kalian nggak akan pernah jadi wanita. Jadi, kalau kalian ingin menyampaikan apapun yang 9 hati kalian mau, pakai juga otak kalian. Biar imbang.

Ketika ada dua orang berlainan jenis, memutuskan untuk menjadi entah itu sahabat, pacar ataupun suami istri, mereka harus bisa menyatukan 9 hati ke 1 hati dan 9 otak ke satu otak. Apapun itu judulnya, hubungan yang sanggup menyatukan 9:1 ini, mampu membuat hubungan itu bertahan. Walaupun untuk yang judulnya sahabatan, gue ragu kalau bakalan tetap jadi sahabat. Hahahahaha

"Catatan hati seorang wanita itu, rahasia hati itu, pasti akan mereka ucapkan ke satu orang yang mereka paling percaya. Orang yang selalu ada. Orang yang sanggup memberikan tangannya untuk si wanita dan tetap bertahan dan mencoba untuk terus memahami walaupun wanita itu sudah sedemikian bikin kusut otaknya. Dan saat itulah, si pria harus sadar, kalau si pria itu teramat sangat penting untuk si wanita"


Einca, 2014

Minggu, 29 Juni 2014

Jika Bisa...

Satu minggu sudah aku tinggal bersama gadis ini. Seorang gadis cantik yang selalu tampak anggun dengan balutan kerudungnya, seorang gadis cantik yang selalu memperlakukan aku dengan lembut dan penuh perhatian. Ia sangat menyayangiku. Kemanapun ia pergi, ia selalu membawaku dan selalu menceritakan peristiwa apapun yang terjadi dengannya sepanjang hari.

Aku masih ingat saat pertama kali ia menyentuhku dan memilihku di antara jenis-jenisku yang lain. Tanpa melihat ataupun memilih yang lainnya, ia langsung meraihku dan membawaku pulang. Menimang-nimangku, seolah aku adalah benda paling berharga yang pernah ia miliki.

Aku juga masih ingat saat ia pertama kali bercerita kepadaku. Cerita gembira karena sekarang telah memilikiku, dan cerita-cerita bahagia lainnya. Ia bercerita dengan lembut. Lembut tanpa menyakitiku sedikitpun. Aku bahagia bisa dimiliki oleh gadis cantik seperti dia. Namun, kebahagiaanku perlahan memudar. Tiga hari berlalu, aku mulai mendengarkan ia bercerita dengan air mata yang sering kali menetes. Aku sedih melihatnya. Tangisnya mulai mewarnai setiap kalimat yang ia ceritakan padaku. Dan hal itu berlangsung hingga sekarang ini.

***

Hari ini, ia kembali bercerita. Ia menunjukkan selembar foto, bergambarkan sosok laki-laki yang tersenyum manis, dengan lesung pipi yang menghiasi kedua pipinya. Aku, seperti biasa, selalu menyimak ceritanya dengan sabar. Namun hari ini, kesedihan yang terpancar dalam setiap rangkaian kalimat yang ia ceritakan, membuatku juga ingin meneteskan air mata. Jika saja aku bisa menangis. Aku pasti sudah menangis bersamanya. Bukan hanya menampung tangisannya, tapi juga ikut berbagi tangis dengannya.

***

Lagi, hari ini ia kembali membelai hatiku dengan guratan kalimat penuh kesedihan. Kenapa goresan kata-kata ini semakin lama semakin menyayat? Kenapa ia tak lagi membubuhkan senyum saat ia membelai hatiku? Aku rindu dengan celoteh riangnya. Aku rindu dengan senyum manisnya. Jika saja bisa, aku ingin berteriak dan memarahinya. Aku sedih melihat setiap tetes bening yang selalu membasahi kedua pipinya dan ikut membasahi badanku juga.

Ah, apa yang harus aku lakukan? Kesedihan itu semakin lama semakin memuncak. Untuk hari ini, bahkan aku merasakan tetes lain selain air matanya. Tetes berwarna merah pekat dan kental. Tetes yang ikut menetes saat bening air itu menetes. Harus bagaimana aku membantunya? Aku melihat kesedihannya, aku melihat kesakitannya, tapi yang bisa aku lakukan hanyalah menatap dan menampung satu persatu rangkaian kata dalam cerita-cerita sedihnya.

Ya, hanya cerita sedih, tanpa ada emosi lain selain sedih dan kesakitan. Ah, aku benar-benar benci menampung cerita sedih seperti itu. Badanku harus basah oleh tetesan air mata, atau malah ingus yang tak mampu tertahankan karena isak yang semakin lama semakin meninggi. Dan sekarang, ada tetesan lain yang ikut mewarnai. Ya, tubuhku sudah seperti kanvas yang bercampur cairan-cairan alami yang keluar dari tubuh manusia.

***

Sudah empat hari gadis itu tak lagi bercerita padaku. Apakah ia mengerti bahwa aku tak suka menampung cerita sedihnya? Entahlah, tapi aku merindukannya. Kemana ia? Ah, jika saja aku bisa mencarinya. Tak hanya berdiam di atas meja kayu ini. Diam dalam kesunyian kamar ini. Diam dalam cemas karena tak melihat gadis itu beberapa hari ini.

Jgrek. Pintu kayu berwarna coklat itu terbuka perlahan. Aku langsung bersorak riang. Berharap kalau yang muncul itu adalah si gadis manis pemilikku. Namun harapanku kandas seketika. Bukan, bukan gadis itu yang datang, tapi gadis lain dengan rambut dikuncir ekor kuda. Gadis ekor kuda itu langsung meraihku. Membuka gembok yang selalu terpasang guna menjaga kerahasiaan yang setiap hari aku tampung dari gadis manis pemilikku. Gadis ekor kuda itu membuka rahasiaku dan pemilikku. Menatap setiap rangkai kata yang ditumpahkan pemilikku. Lalu aku melihat bening yang menetes dari kedua mata gadis ekor kuda itu.

Ya, ya, ya. Gadis itu pasti ikut merasakan sedih dan sakit dari setiap guratan kata yang ada di bagian-bagian tubuhku. Gadis itu membuka setiap lembar bagian dalam tubuhku dengan cepat. Hingga akhirnya aku melihat kedua matanya terbelalak kaget. Ya, gadis ekor kuda itu akhirnya melihat juga lembaran-lembaran yang dipenuhi oleh tetes berwarna merah pekat yang telah mengering itu.

“Ini nggak mungkin....”

Aku mendengar suara lirih dari gadis ekor kuda itu. Ah, jika saja bisa, aku ingin berteriak dan menamparnya. Bagian mana yang tidak mungkin? Semua bahkan sudah terpampang jelas di lembaran tubuhku. Tetes merah yang telah mengering itu buktinya. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan saat akhirnya gadis ekor kuda itu menutup tubuhku dengan kasar dan memasukkan aku ke dalam tasnya yang gelap. Mau dibawa kemakah aku? Aku tak ingin meninggalkan kamar ini. Tidak tahukah ia, kalau aku tengah menunggu pemilikku yang manis dan lembut pulang? Oh, Tuhan... bagaimana ini?

***

Bruukk!!! 

Sialan! Gadis ekor kuda itu membantingku ke atas meja kayu yang keras ini. dia pikir dia siapa? Bahkan pemilikkupun selalu memperlakukan aku dengan lembut. Lalu kenapa ia....

“Baca ini!”

Aku mendengar gadis ekor kuda itu berkata. Suaranya terdengar terluka. Lalu sebuah tangan besar meraihku. Oh, aku mengenali wajah ini. Ini wajah lelaki yang fotonya sering diperlihatkan oleh pemilikku. Aku jadi penasaran, siapa sebenarnya laki-laki ini. sepenting apakah ia untuk pemilikku? Dan apa yang sudah ia lakukan hingga membuat pemilikku selalu menangis.

Lelaki itu tak berkata apa-apa saat mulai membuka lembar-lembar tubuhku. Namun, aku dapat melihat gurat gelisah dan bersalah yang perlahan mulai muncul di wajahnya. Ada apa sebenarnya ini. Ah, jika saja aku bisa berteriak dan bertanya langsung. Aku benci menebak-nebak dalam diam seperti ini. Tak bisakah laki-laki ini mengeluarkan suara?

“Apa maksudnya ini?”

Laki-laki itu bertanya sambil menutup kasar diriku. Lagi, lagi aku harus diperlakukan seperti ini. Aku benar-benar merindukan pemilikku yang selalu lembut. Dimanakah ia sekarang?

“Nadia sakit, kamu selama ini salah paham. Aku tunjukkan itu ke kamu, agar kamu sadar dan berfikir. Nadia bukanlah wanita jahat seperti yang selalu kamu tuduhkan. Sekarang Nadia ada di rumah sakit.”

Lalu gadis ekor kuda itu beranjak pergi. Ya, ya, pemilikku jelas bukan orang jahat. Justru laki-laki inilah yang jahat karena telah membuat pemilikku yang manis selalu menangis. Oh, apa yang harus aku lakukan? Pemilikku ternyata tengah terbaring sakit. Jika saja aku bisa, aku ingin berteriak pada laki-laki ini. berteriak agar ia bergerak dan pergi ke tempat dimana pemilikku berada. Bukan malah berdiam diri dan termenung seperti ini. Aku ingin melihat pemilikku. Aku rindu celotehnya.

Ah, jika saja aku bisa....


#NarasiSemesta



Einca, 2014

Rabu, 25 Juni 2014

Tentang Sebuah Kata Maaf



 




Maaf....
Satu kata sederhana. Satu kata yang hanya terdiri dari empat huruf saja. Satu kata yang selalu dengan mudah diucapkan. Satu kata yang selalu menjadi tameng setiap orang saat melakukan kesalahan.
Kalian pasti sering ngomong “maaf”-kan? Setiap melakukan sesuatu yang itu entah disengaja atau nggak, pasti kalian ngomong kata “maaf”. Contoh sederhananya aja, ketika lo nggak sengaja nyenggol orang di jalan, pasti langsung ngomong “maaf”. Contoh rumitnya, lo bikin dosa sama orang lain yang dosanya pake banget. Setelah lo sadar akan dosa lo, pasti lo langsung minta maaf. 

Sesederha itukah sebuah kata maaf?
Segampang itukah untuk mengucap maaf dengan tulus dan mendapat maaf dengaan tulus juga?
Sesederha itukah sebuah kata maaf?
Segampang itukah untuk mengucap maaf dengan tulus dan mendapat maaf dengaan tulus juga?

Sesungguhnya, kata maaf jauh lebih rumit daripada yang kebanyakan orang tahu. Maaf bisa menjadi sederhana jika kita hanya melakukan sebuah kesalahan kecil. Nggak sengaja nyenggol orang di jalan, gitu misalnya. Tapi, untuk sebuah kesalahan besar, cukupkah hanya dengan mengucap satu kata maaf saja? Gue rasa nggak. Apalagi kalau sesudah ngomong maaf, malah ngulangin lagi kesalahan itu. Hellooooowwww.......!!! 
Gue juga pernah ngelakuin salah yang besar. Dan rasanya minta maaf aja itu nggak cukup. Gue bahkan minta maaf berkali-kali. Pokokny minta maaf terus ampe dimaafin. Tapi waktu itu, gue masih seorang anak ABG gahooll yang sadar salah baru sampai otak, terus juga sering khilaf. Jadi ya tanpa disadari, gue ulang lagi tuh salah. Sampai akhirnya sebuah tamparan keras yang nyadarin gue. Dan itu bener-bener keras. Minta maaf sambil mewek-mewek juga rasanya masih kurang. Dan nyesal yang datang itu rasanya nyesek banget. Dan gue juga nggak tahu yang dimintain maaf, beneran tulus maafin gue atau nggak.

Maaf itu baru terjadi kalau tak hanya sekedar diucapkan. Ketika menyesal itu benar-benar datang dan masuk ke hati, pasti kalian akan sadar kalau ngobatin sebuah luka karena kesalahan yang kalian lakuin itu, nggak akan cukup dengan lo ngomong, “gue minta maaf. Maafin gue ya,” terus lo ngacir dan bilang, “terserah lo mau maafin atau nggak, pokoknya gue udah minta maaf. Kan lo yang dosa kalau nggak mau maafin gue!”
Woi!!! Lo pikir lo abis bikin salah apa? Kalau sekedar nyenggol sih, okelah. Emang konsekuensinya dia sama Tuhannya kalau dia nggak mau maafi. Tapi itu cukup nggak bikin lo yang ngelakuin salah ini, lega? Kalau iya, berarti minta maafnya nggak pakai hati. Cuma sadar salah sampai otak doang. Dan buat formalitas aja. Kalau kayak gitu mah, mending nggak usah minta maaf. Biarin aja tuh kesalahan ngambang di kali! 

Ketika lo menyadari dengan hati tentang semua kesalahan itu. Pasti nyesalnya sampai ubun-ubun. Minta maaf aja nggak cukup rasanya. Nangis juga nggak guna. Ngadu sama yang di atas juga rasanya masih aja nyesek. Dan nyesek itu baru hilang, ketika kata maaf yang diucapkan itu tak hanya sekedar diucapkan. Tapi juga direalisasikan. Dan untuk hal ini, nggak apa-apa kalau yang dimintain maaf belum ngasih senyum buat maafin. Yang penting, lo minta maaf dan realisasikan kata maaf lo. Dengan tulus. Itu baru bisa bikin hati lega. Insya Allah. Sisanya, serahin sama yang maha pemberi maaf atas segala kesalahan.

Maaf itu bukan sekedar satu kata sederhana. Maaf itu bukan hanya sekedar satu kata yang terdiri dari empat huruf biasa. Maaf adalaah sesuatu yang harus kita rasakan dengan hati, kita ucapkan dan realisasikan dengan tulus ikhlas dan sepenuh hati.


Einca, 2014

Palembang Part 2 - Macet! Menerawang! Maksa! Mahal!



 
lampunya bagus ya... :D

Yipiiiii.... Gue pengen lanjutin lagi kisah gue di kota pempek ini. Ini hari pertama gue tiba di kota yang –demi apapun panas banget- indah ini. Hari pertama menginjakkan kaki di kota ini, gue sama adek gue langsung pasang obsesi buat manjatin tiang ampera! Huhahahaha.... Tapi sebelumnya, skejul pertama adalah nganterin adek gue nyari tempat dia buat tes SMBPTN besok pagi. Jadi, berangkatlah gue bareng dua adek sepupu gue lainnya, dua adek sepupu yang kebetulan badan sama wajahnya jauh lebih tua dari pada gue. Iya, iya, guekan masih imut banget. :D

Perjalanan pertama menuju lokasi tes adek gue besok, kami tempuh dengan lancar dan selamat. Walaupun panasnya nyengat sampai ke tulang, dan macetnya bikin pegel pantat, tangan, juga kaki. Gue sama adek-adek gue sampai di kawasan Puncak Sekuning itu. Setelah keliling nyari ruang ujian selama setengah jam dan cuci mata dikit liat china-china sesat yang kebetulan banyak banget disana, gue dan ketiga adek gue ini memutuskan untuk main ke sekitaran Ampera.

Setelah menempuh perjalanan yang makin sore makin macet, kami tiba di sekitaran Ampera yang, woaahhhhh!!!! Rame gilak cuii!!! Padahal hari senin loh. Berhubung masih panas banget, gue sama adek gue memutuskan untuk mampir ke Museum Sultan Mahmud Badarudin II. Museumnya rame. Nggak kayak di Kota asal gue. Museum udah sama kayak kuburan. Sepi, sunyi, Cuma ada penjaga gerbangnya doang. Udah kayak mau lewatin pintu neraka aja, saking horornya tuh museum. 

Oke, back to SMB II...
Gue dan ketiga adek gue masuk ke dalam museum yang terletak di lantai 1. Setelah bayar tiket masuknya, kami disambut sama seorang datuk yang menggunakan pakaian khas Palembang. Di tangan kanannya terdapat sebilah besi kecil, entah untuk apa. Gue sama adek gue langsung curiga, ni orang jangan-jangan tourguide. Tapi, berhubung adek gue yang dua orang lagi udah dengan pedenya ngikutin tu datuk, mau nggak mau gue dan adek gue yang satunya ngikut juga. Dan benerkan, ni datuk tourguide. Hemm...

Datuk  ini menjelaskan tentang semua benda yang ada di dalam museum tersebut. Dari mulai prasastinya sampai ke ranjang pengantin. Ketiga adek gue, dengan penuh perhatian dan seksama menyimak penjelasan si datuk. Sementara gue, gue asyik foto selfie. Akakakaakak....

Akhirnya, setelah berkeliling hampir 1,5 jam. Kami tiba kembali di depan pintu masuk. Masih duduk-duduk di dekat miniatur rumah adat Sumatra Selatan, si datuk datang lagi. Adek gue langsung bisik-bisik. “Ni datuk mau minta duit lagi ya, Yuk? Kok balik lagi?”, gue Cuma nyengir sambil dengerin segala praduga adek gue. Tapi, ternyata, si datuk bukan mau minta duit lagi, tapi malah nanya umur dan kerjaan kami sekarang.

Adek 1 : Saya masih 15 tahun, Tuk. Baru kelas 2 SMA.
Adek 2 : Saya masih 15 juga, tapi baru kelas 1 SMA.
Adek 3 : Saya baru lulus SMA, Tuk. Ini mau ikut tes besok.
Gue : Saya udah mau kelar kuliah, Tuk. Hehehe

Si datuk langsung ngomong, “Datuk nggak tahu asal kalian, datuk juga nggak tahu siapa orang tua kalian. Tapi datuk bisa liat kalian.” Datuk itu lalu menatap kami satu persatu.

Datuk ke adek 1 : Kamu itu terlalu boros. Jadi perempuan harus bisaa atur uang. Tangannya jangan terlalu gatal.

Datuk ke adek 2 : Kamu itu cita-citanya banyak. Liat orang jadi dokter mau jadi dokter, liat orang jadi guru mau jadi guru, liat orang mau jadi bidan kamu juga mau jadi bidan. Sudah besar, harus bisa memikirkan masa depan dari sekarang.  (Dalam hati gue nyambungin, jangan-jangan adek gue yang ini kalau ada power ranger beneran, dia mau jadi personilnya juga. Ranger ungu gitu. Belum adakan?)

Datuk ke adek 3 : (Diem, merhatiin dengan seksama) Kalau orang tua ngomong itu di dengar. Tandanya ortu masih sayang. Jangan bantah. Jadilah dewasa, jangan seperti anak kecil terus.
Ketiga adek gue shock, soalnya omongan si datuk ini emang bener semua. Lalu si datuk noleh ke gue. Gue jujur aja degdegan. Soalnya si datuk ngeliatin gue kaya gimana gitu. Gue pikir ni datuk naksir gue. Hahahaha....

Datuk ke gue : Hidup kamu itu udah berat. Jangan ditambah lagi. Jangan terlalu memikirkan orang yang bahkan belum tentu mikirin kamu. Hati itu tahu kebenarannya. Jodoh itu akan datang pada waktunya. Baik-baiklah, Insya Allah kamu akan mendapatkan dia yang terbaik dan mampu menerima semua lebih dan kurang, semua masa lalu dan semua yang di depan.

Gue bengong. Diem liatin tuh datuk yang senyum-senyum sok ramah ke gue. Lalu, datuk itu pergi ninggalin gue yang langsung dikerubungin sama ketiga adek gue. Udah macam ikan dikerubungin laler aja. No coment, woi! Gue aja shock! Hih jadi adek kok ya pada heboh! Tapi omelan gue tak diindahkan oleh adek-adek gue ini. Untungnya, kumandang Adzan Ashar nyelametin gue.  Yes!!! Gue langsung dengan manisnya ngomong, “nyari masjid yuk, Dek. Udah adzan tuh loh.” Lalu gue langsung ngacir. Hahaha...

Nah, masjidnya lumayan jauh juga. Dan gue pergi sama adek-adek yang jalannya lelet banget. Tau-tau aja gue udah jalan sendirian. Dan jalanan di sekitar Ampera itu, penuh sama angkot yang keneknya maksa banget nawarin buat naik angkotnya.
“Mbak, angkot nggak?”
“Nggak mas.”
“Naik aja Mbak. Jalan tuh capek.”
“Nggak, Mas. Makasih.”

Terus gue jalan lagi, sambil usaha nahan sabar dan gondok. Soalnya si kenek tadi masih ngejar-ngejar buat nawarin angkotnya. Gilak, maksa banget! Dan kejadian itu berulang-ulang sampai gue tiba di Masjid Agung yang terletak di seberang jalan. Astagfirullah. Dan rupanya, ketiga adek gue juga mengalami hal yang sama. Mereka sampai 10 menit setelah gue. Dan gue langsung diomelin karena ninggalin mereka. Salah sendiri, jalan kok kayak penganten! Udah tahu macet banget.

Setelah sholat dan duduk-duduk sebentar. Gue dan ketiga adek gue balik lagi ke arah Ampera buat nyari makan. Dan ternyata yang punya warung makan sama persis kaya si kenek-kenek angkot tadi. Maksa! Buset.... Ni kota penuh paksaan banget.  Gue mutusin buat masuk di salah satu warung bakso. Hal ini dikarenakan request semua adek-adek gue. Ya udah, gue sebagai Kakak yang baik dan sebagai tukang bayarin, nurut.

Lima menit menunggu. Akhirnya makanan sampai. Dann..... Mata gue sama adek gue melotot. Gilak. Ini bakso terdikit yang pernah gue liat! Buset! Dan harganya 10 ribu.. Ini mah takaran harganya 5 ribu. Dasar! Mau naik haji apa? Hiiisshhh.... 

Yah la macet, yah la mahal, yah la diterawang yang bikin gue shock. Ampuuunnnn!!! Kapok gue maen kesini. Semoga adek gue di terimanya di kota lain aja. Jangan disini. Demi apapun gue nggak betah!!! Mana nggak ada pantai pula. Yang ada Cuma sungai yang sama aja bentuknya kayak sungai-suangi lainnya. Nothing special. Nggak lagi-lagi deh main kesini lama-lama. Bangkrut badan, bangkrut dompet, bangkrut semuanya!!! Dan perjalanan malam ini, diakhiri dengan poto-poto nggak jelas di atas jembatan Ampera yang, ngomong-ngomong kece badai kalau lampunya dah pada nyala. :D


Einca, 2014

Senin, 23 Juni 2014

Tentang Hati.... Tentang Rasa

Hmm... Setelah gue cuap-cuap nggak jelas tentang perjalan jauh gue. Sekarang gue lagi pengen bahas tentang hati dan tentang rasa...
Tentang hati.... Tentang rasa.....
Secara ilmu pengetahuan, hati adalah sebuah kelenjar terbesar dan kompleks dalam tubuh. Berwarna merah kecoklatan, yang mempunyai berbagai macam fungsi untuk tubuh setiap makhluk hidup.
Yang mau gue bahas disini, tentang “hati”. Hati yang diberikan oleh Tuhan untuk dapat merasakan banyak hal. Hati yang dapat merasakan senang, sedih, kecewa, dsb. Hati yang dapat merasakan suka, sayang, cinta. Hati yang juga dapat merasakan sakit.

Pernahkan ngerasain sakit hati? Nggak cuma sakit karena putus cinta. Tapi juga dari pertemanan, persahabatan, juga antar saudara sendiri.

Hati itu, sesuatu yang benar-benar sensitif. Hati itu kadang juga nyebelin. Bagi gue, hati itu lebih banyak nyebelinnya. Kenapa? Kadang hati itu suka melakukan tindakan yang sebenarnya ditolak oleh otak. Hati itu egois! Nggak mikirin si pemiliknya kayak gimana karena yang dirasakan si Hati ini, pokoknya si Hati ini maju terus pantang mundur! Maju tak gentar!

Iyakan? Pernahkan lo ngerasain di saat otak lo menyangkali mati-matian, tapi hati lo ngomongnya lain. Gimana rasanya badan lo kalau nyangkalin hati lo? Sakitkan? Semua salah. Duduk nggak enak, makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, rindu menyerang. Eh... hahahaha

Tentang hati... tentang rasa... tentang keduanya yang nggak bisa dipisahkan. Tentang keduanya yang selalu muncul bersamaan. Tentang keduanya yang juga bisa sakit bersamaan. Dan juga bahagia bersamaan.

Tentang hati yang selalu tidak bisa menyangkali saat sebuah rasa muncul. Tentang hati yang juga tidak bisa menyangkali saat sakit karena rasa itu.

Berdasarkan pengalaman gue pribadi, sekuat-kuatnya orang, sesangar-sangarnya muka tu orang, pasti bakal nangis kalau hati dan rasa itu sakit. Guepun juga gitu. Malah bisa bikin badan drop mendadak karena sakit yang dirasa sama si Hati. Gue pernah juga ngalamin itu. Beberapa kali. Dan itu semept bikin gue nggak mau bangun lagi. Hati gue jadi serpihan bersama rasa yang dihempas ke dasar jurang. Rasanya kayak dunia lo juga hilang seketika.

Tapi, hati itu sebenarnya juga bukan sesuatu yang lemah. Saat hati memutuskan untuk merasa, sesungguhnya saat itu juga hati udah siap dan memperingatkan si pemiliknya untuk menguatkan si hati ini. Lo nggak mau hati lo jatuh dan jadi serpihan karena si rasa ini tadikan? Lo harus kuatin hati lo. Ketika hati itu kuat, badan lo juga ikut menguat. Itu cara lo nyelamatin diri lo sendiri, karena orang lain nggak akan bisa nyelamatin kehancuran hati lo karena si rasa ini.




Einca, 2014

© Airalaks, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena