Senandung RASA Ketika hati dan otak mulai tak mampu lagi menampung rasa dan lisan tertahan untuk menyenandungkannya, maka tulisan mengambil alih untuk menyampaikannya. Menyenandungkan semua tentang Rasa...

Sabtu, 21 Mei 2016

Ocehan Finding You Among The Stars


Finding You Among The Stars
Penulis             : Eka Annisa
Editor              : Tri Saputra Sakti
Disunting        : M. Adityo Haryadi
Desain Sampul: Orkha Creative
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978 602 03 2754 9
Cetakan Pertama: April, 2016
Harga              : Cek sendiri di toko buku. Soalnya gue dikadoin sama penulisnya langsung.
                          Nyahahaha JJJ

Bagi Nadhira, Reo adalah bintang yang selalu menerangi hidupnya. Saat cowok itu meninggal, hidup Nadhira menjadi gelap. Dia menjadi lebih tertutup dan enggan bersosialisasi.
Sampai akhirnya Nadhira bertemu Haykel si mahasiswa menyebalkan di salahs atu perpustakaan Jakarta. Herannya, cowok itu mengingatkan Nadhira pada Reo karena sama-sama menyukai alam semesta. Kemiripan itulah yang membuat hati Nadhira pelan-pelan terbuka.
Kedekatan Nadhira dan Haykel membuat Edgar—sahabat Reo—kesal. Bagaimanapun, Edgar lebih menyukai Nadhira. Bahkan cowok itu rela melakukan apa pun demi Nadhira. Kegigihan Edgar pun membuat perasaan Nadhira goyah.
Selain itu, Nadhira juga dihadapkan pada kenyataan menyakitkan tentang asal-usul Haykel, kehidupan Edgar, bahkan misteri kematian Reo.

Nah, itu sekilas blurb yang ada di buku.
Di sini, gue bukan mau ngreview macam pakar-pakar review buku lainnya. Gue nggak ahli yang begituan soalnya. Tapi gue mau nyampein kekesalan gue sama ni buku.
Awal buku ini mau terbit, asli gue excited banget. Gimana nggak, Finding You Among The Stars ini udah digarap sama Kak Eka dari zaman Barbie masih cinta sama Ken. Euh, alay. Pokoknya udah dari lama, dan gue ikuts erta dalam penggarapannya. Bukan sebagai penyumbang ide sih, tapi sebagai pembaca—bahasa kerennya proofreader—yang doyan komen sana-sini sok tahu.
Jujur, gue lebih suka naskah asli FYATS. Yang filenya masih ada di gue. Awal baca buku yang udah terbit ini, gue kecewa. Maksain banget buat ngelewatin bab-bab awal yang asli boring setengah mampus, sambil dalam hati bilang, “Ya Allah, kuatkan hati Dedek. Ini bukunya Kak Eka, gue udah janji review.”, gitu. Hampir satu bulan gue nyelesein ni buku. Biasanya gue baca buku Dan Brown setebal bantal aja cuma sehari. Ya karena itu tadi, openingnya udah bosenin.
Gue nggak tahu ini salah siapa, tapi gue kecewa sama buku ini. Padahal harapan gue buat buku ini luar biasa gede, mengingat gimana pontang-pantingnya Kak Eka waktu ngegarap ni buku.
Di naskah aslinya, gue suka sama sosok Edgar. Edgar yang dancer, yang perhatian, yang kadang-kadang bisa romantis. Walaupun di buku ini karakter Edgar nggak banyak berubah, tapi entah kenapa feelnya Edgar berkurang. Gue malah jadi seneng sama Haykel. Si mantan penjahat yang sekarang udah tobat.
Haykel di sini digambarin dengan sangat manis. Oke, gue harus akui ini. Haykel yang di buku ini lebih auwo daripada Haykel yang pertama gue baca. Misterius gimana gitu. Gue bahkan jatuh cinta sama dia. Beruntunglah Kak Eka, bukumu tetap memiliki sosok yang bisa membuat Adek jatuh cinta akakakak….
Oiya, Haykel juga pintar ngomong. Ck! Ada satu omongan dia yang gue suka.

“Nad, Mitch Albom bilang, ‘when someone is in your heart, they’re never truly gone.’

Gue nggak tahu siapa itu Mitch Albom, tapi gue suka kata-katanya. Tengkyu karena Haykel udah ngomong ini. J

Well, di luar segala kekecewaan gue sama buku ini, buku ini tetap berbekas kok buat gue. Emang lima lembar awal ngeselin, tapi masuk ke bab-bab pertengahan, ceritanya mulai asyik. Tentang Haykel yang mati-matian bertarung sama masa lalu, dan Nad yang berusaha ngelupain masa lalu. Tentang Edgar yang mati-matian berusaha ngelupain perasaannya untuk seseorang karena harus menjaga perasaan seseorang yang lain—sayangnya nggak sukses. Dan juga tentang persahabatan. Gimana sahabat-sahabat itu tetap ada di saat tersulitnya Nad, Haykel, pun Edgar.

Buku ini tuh bikin baper lalu bikin kesel. Bikin gregetan di pertengahan. Lalu bikin pengen nabok tokoh-tokohnya. Di pertengahan hingga menjelang akhir, bakal kerasa banget galaunya Nadhira, juga Edgar. Bakal makin kelihatan perubahannya Haykel. Bakal makin banyak sakit hati--yeah, ada yang cintanya bertepuk sebelah kaki, btw. Dan begitu ending, kalian bakal disuguhin yang pahit manis kecut-kecut asam gimana gitu, dari Nad dan Haykel. 

"Reo regulus, bintang paling bersinar di rasi bintang Leo. Magnitudonya satu, dan terang benderang. Ada satu lagi bintang yang sama terangnya. Namanya Aldebaran, bintang paling gemerlap di rasi Taurus. Magnitudonya juga satu, sinarnya cemerlang. Nah, Aldebaran itu kamu, Kel." -Nadhira

Nah. Buat kalian yang mau belajar ngegombal tapi versi kece kelas Dewi, mending belajar sama Nad. Kalau gue jadi Haykel, pasti klepek-klepek ada cewek ngomong gitu ke gue. _Alay, Ca!- hahaha.

Well, buku ini sesungguhnya menyuguhkan kisah yang bagus. Dengan banyak pelajaran. Dari mulai sosio dampai perbintangan. Walaupun menurut gue masih lebih kenceng ilmu-ilmu yang Kak Eka selipin di naskah aslinya. Tapi nggak pa-pa. Toh ini bukan buku pelajaran—huehehehe.

Oke. Rasanya segitu dulu aja review—atau omelan gue—tentang FYATS. Maaf buat kata-kata yang nggak ngenakin. Semangat Kak Eka. Semoga karyamu yang terbaru lekas terbit dan nggak mengecewakan lagi. Semoga ketemu editor yang makin kece. Dan semoga bukunya best seller. Hihi.


-Finding You Among The Stars-

Kamis, 17 Maret 2016

Sakit mana? Nahan Rindu atau Siku Kepentok Ujung Meja?


Judulnya ngaco ya? Nggak loh. Gue serius. Tapi bukan gue yang lagi rindu. Kalau kepentok ujung meja sih sering. Hoho.

Jadi, long long time ago—halah, Ca!—gue dapet pesan Wasap dari seorang teman yang udah lumayan lama nggak ngechat. Dia bilang gini, “Ca, gue galau. Barusan siku gue kepentok ujung meja. Terus gue udah nggak dapet kabar dari Cewek gue yang lagi KKN, tiga hari. Menurut lo, sakit mana? Nahan kangen apa siku kepentok ujung meja?”.
Asli, gue mikir sampai keesokan harinya, buat jawab. Bahkan pertanyaan ini gue lempar ke anak Rumpi, temen di dekat gue, temen wasap yang lain, adik, sampai ke temen BBM nun jauh di ujung kulon sana. Dan jawaban mereka beragam.

·         Rumpi
Semua jawab, “Sakitan siku kepentok ujung meja, Kak. Lebih sakit lagi kalau jari kelingking kaki kepentok tembok.”. Dua orang nggak jawab. Mungkin mereka abstain karena nggak tahu. Sama kayak gue. Dan dua yang jawab ini, karena mereka jomblo mungkin. Jadi nggak ngerti betapa menyiksanya LDR! Nyahahaha.
·         Temen di deket gue
Tiga jawab sakitan siku kepentok ujung meja (Soalnya mereka nggak LDR).
Dua jawab, sakitan nahan rindu. Nyesek sampai ulu hati. Susah makan, susah bobok, susah boker, susah mandi, susah jajan. Halah!
Satu nih yang jawabnya serius. Dia cowok. Lagi LDR sama pacarnya. Dengan tampang sedih yang mendalami banget, dia bilang gini ke gue, “Sakitan nahan rindu, Ca. Sakit banget. Puas?!” . Ujung-ujung malah ngamuk dia ke gue, gara-gara gue gangguin. Ck!
·         Teman Wasap yang lain
Semua rata-rata jawab sakitan nahan rindu. Temen wasap gue rata-rata melankolis sih. Langsung deh tuh chat sama mereka dipenuhi puisi-puisi cinta ala anak alay baru ditinggal merit! #Loh?!
·         Adik
Nggak bisa diharepin dari jawaban adik gue nih. Dia cuma bilang gini, “Emang Inga peduli?”. Sial!
·         Temen BBM yang lain
Ini sama aja kayak temen wasap. Jawabannya ngaco. Tapi semua jawab kalau lebih sakit nahan rindu. Udah. Gitu aja. Tanpa penjelasan. *LemparinBakiak!*

Sekarang menurut gue sendiri ya. Hmm…. Hmm…. Apa ya….??
Kalau gue sendiri, lebih milih sakitan siku kepentok ujung meja. Kenapa? Bukan karena gue nggak pernah LDR. Pernah. Lama pula. Huahahaha. Tapi ini kan nanyanya tentang sakit kan ya? Ya jelas sakitan siku kepentok ujung meja. Coba deh, nggak bisa gerak tu tangan agak lima belas menit saking nyerinya.
Sementara rindu? Memang bikin sesak sih. Kadang sampai mewek sendiri. Tapi udah, segitu aja. Lebih parrah kalau ngelamun malah. Dan pula, rindu itu bikin kita jadi kreatif. Tuh contohnya temen-temen wasap gue. Mendadak jadi puitis abis. Tulisan-tulisannya jadi romantis luar biasa. Sesuatu kan?

Jadi Bro, pertanyaan lo akhirnya gue jawab. Sakitan kepentok ujung meja. 
Kalau menurut kalian, sakitan mana? 

© Airalaks, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena